Rabu, 14 Mei 2008

Dibilang Gila? Cool aja!

-Dibilang Gila? Dibilang Sarap? Terima aja lagi!-

Ceritanya hari itu aku bareng teman-temanku; Dewi, Mira, Dela dan Astri mau jalan-jalan sekalian makan-makan buat ngerayain ulang tahunnya Dewi dan Mira yang udah lewat beberapa hari.
Nah, kebetulan hari itu anak-anak kelas VII dan kelas VIII di sekolahku diliburkan, soalnya anak-anak kelas IX harus ngikutin ujian apa… gitu. Pra UAN ato apa gitu, enggak jelas dan aku memang enggak mau peduli. Hehehe… syukurin.
Mula-mula kami berlima ngumpul di rumahnya Mira. Pertamanya sih kita pada janjian mau dandan dengan konsep gila abis! Eh, tapi ujung-ujungnya, semua dandannya biasa-biasa aja. Aku hanya memakai tanktop hijau plus kemeja-pendek-santai plus celana legging selutut, Dewi memakai overall skirt plus celana jeans selutut, Mira memakai tanktop (enggak yakin sih namanya tanktop, habis model tangannya seperti tanktop sih. Halah, enggak usah terlalu dipusingin) plus legging yang panjangnya sampai mata kaki, dan Dela memakai jeans yang modelnya mirip jeans yang Dewi pakai dan atasan yang aku enggak tahu namanya apa, hehehe… Astrid yang tampil paling heboh diantara kita. Astrid mengenakan atasan yang bagus sih. Cuma bawahannya… udahlah, enggak usah disinggung lagi. Langsung ke ceritanya aja…
Jadi kami nyampe di restoran Kuwera diantar kakak sepupunya Mira. Lupa namanya siapa. Nah, waktu kita turun dari mobil, kita ngelihat dan diliatin banyak anak-anak dari SMP lain yang kebetulan nyasar di sekitar situ. Mungkin anak-anak itu ngerasa aneh, soalnya memang hanya sekolah kita saja yang ngadain acara libur, dan anak-anak itu mengenakan seragam sekolah, sedangkan kami mengenakan seragam… renang. Ya enggak lah!
Setelah kita pada puas liat-liatan dengan anak-anak dari sekolah lain itu, kita segera nyeberang jalan dan masuk ke restoran Kuwera.
Trus di restoran Kuwera…
Halah! Bosen ah nyeritain satu-satu! Intinya, kita pada selesai makan, trus setelah makan kita dengan PD-nya foto-foto dengan HP kita masing-masing di situ dengan menjunjung tinggi asas kenarsisan. Untung waktu itu restoran Kuwera lagi sepi, jadi yang ngeliatin kita pada foto-foto dengan tatapan aneh sambil geleng-geleng kepala hanya dua orang mbak-mbak penjaga restoran. Kalo aja itu restoran rada rame dikit, pasti kita berlima dikira orang gila nyasar yang baru kabur dari RSJ dan ngerampok banci di salon trus makan-makan di sini.

Tujuan kami yang selanjutnya adalah ke SIP (Sagu Indah Plaza) yang enggak terlalu jauh dari restoran Kuwera. Tinggal nyebrang jalan trus jalan sedikit, nyampe deh.
Sampai di SIP, kita langsung lari-larian kayak orang gila menuju Game Center yang enggak lain dan enggak bukan adalah Funstation.
Sampai di Funstation, kami berlima langsung masuk ke sebuah… apa yah namanya? Yah, aku sebut wahana permainan. Aku enggak tahu namanya apa. Yang jelas bentuknya kalo enggak salah seperti pesawat kecil, trus di dalamnya ada ruang yang rada remang-remang dan enggak terlalu luas. Trus kalo kita masukin koin di lubangnya kita bisa main tembak-tembakan laba-laba. Bagi yang tahu nama wahana permainan ini apa, silahkan mengirimkan jawabannya padaku di alamat ini; Jln. Suster Ngepet no. 08, Kuburan.
Kesalahan yang kita lakukan di wahana ini adalah, kita dengan PD-nya masuk ke wahana ini, trus dengan heboh teriak-teriak kaya orang gila beneran, dan Mira ato Dela megangin pistol-pistolan di dalam wahana tersebut sambil ngacung-ngacungin kearah layar. Dan ternyata kita baru nyadar. Kita belum… MASUKIN KOIN. Ya jelas saja walau Mira marah-marahin layar di dalam wahana itu yang cuma bisa nampilin gambar orang-orang naik mobil khas para petualang di hutan, kita enggak bisa mainin wahana itu.
Setelah memasukkan koin, Mira mulai asyik mainin pistol-pistolan dalam wahana itu ditonton olehku, Dewi, Dela dan Astri dengan tidak berperasaan. Kenapa? Karena waktu Mira harusnya lagi konsen sama sekumpulan laba-laba di layar, kita berempat malah ketawa-ketiwi enggak jelas sehingga Mira ikutan ketawa dan enggak konsen.
Enggak lama kemudian, aku dan Dewi bosen ngeliatin Mira main, dan main di wahana lain. Enggak tahu juga namanya apa. Yang jelas wahana ini bisa dimainin dua orang, trus terdapat dua tongkat buat saling toki (itu lho, saling adu bentur-benturin tongkat itu sambil dorong-dorongan, aduh… susah jelasinnya) satu sama lain.
Dewi megang tongkatnya, lalu saat permainan dimulai, Dewi yang ternyata sudah lebih dulu tau cara mainin ini permainan dari aku yang enggak tahu apa-apa tentang cara mainin ini permainan, dengan sadis mendorong tongkatku yang sejak tadi aku pegangin hingga aku hampir kepeleset. Dewi, awas kamu yah! Aku lemparin kamu ke kumpulan waria di taman Mesran nanti.
Puncak marabahaya ini terjadi saat… kami jalan ke Saga mall.
Walau namanya mall, Saga besarnya enggak seberapa dengan mall-mall di Jakarta. Letaknya di daerah Abe, dekat tempat tinggalku.
Di Saga, Dewi ngajak kita berempat ke toko roti buat ngebeliin kita sebiji donat. Sambil menuju ke toko roti, kita berlima pada ngoceh-ngoceh ribut,
“Strid, kayaknya celana kamu kependekan deh.” kata Mira pada Astri yang waktu itu mengenakan sepatu ala penyihir-penyihir warna hitam.
“Ah, masa?” Astri balik nanya.
“Lebih baik kamu gulung aja ke atas sampai enggak kelihatan.” usulku.
Astri ngikutin saranku. Di tengah jalan dia ngegulung celana hitamnya yang panjangnya tanggung banget, sampai enggak kelihatan lagi. Dan sebagai gantinya, paha Astri jadi kelihatan. Kita berempat pada ngakak.
“Astri seksi!” celetukku.
“Presy, kamu normal kan? Kamu enggak naksir sama Astri gara-gara pahanya kan?” Dewi nanya sama aku.
“Halah! Ya jelas enggak dong! Aku masih suka cowok tau!” omelku.
Enggak kami sangka, berpasang-pasang mata sejak tadi melototin kami. Aku yang paling cepat sadar dan buru-buru menghentikan tawa keempat temanku yang lain, tapi mereka pada susah dibilangin. Sampai…
“Ehem!” seorang om-om berkemeja putih dengan wajah sangar menghampiri kita berlima. Spontan kita langsung diam.
“Maaf yah, Dek! Ini tempat umum! Tolong tenang sedikit!”
Dan kita pun menundukkan wajah kita sampai hampir menyentuh lantai.
Sampai di toko roti, Mira iseng megang-megang dan ngangkat-ngangkat roti buaya yang dipajang di rak paling atas dengan tujuan, tentu saja bukan buat dipegang-pegang anak-anak semodel kita.
Dan untuk kedua kalinya, kami dimarahi lagi. Kali ini sama seorang koki di toko roti itu yang gemes ngeliat tingkah kami.
Kita lalu mampir di sebuah tempat peminjaman komik di depan food court di sebelah Saga.
Di sana, dengan cueknya aku dan Dewi ngebaca-baca komik-komik yang dipajang di rak-raka di situ, sedangkan Mira, Dela dan Astri jalan-jalan lagi ke Saga. Dewi sempat nunjukin aku adegan-adegan ‘gituan’ padaku dan langsung aku respon dengan setengah teriak, “Hya!! Dewi mau coba!” dan Dewi pun langsung ngegebukin aku dengan komik.
Dewi langsung serius ngebaca sebuah komik di situ, sedangkan aku ikutan baca juga. Eh, lagi asik-asiknya baca, tiba-tiba mbak-mbak yang punya tempat penyewaan komik itu nowel-nowel pundakku. Aku berbalik, menatap mbak-mbak itu dengan tatapan cinta, lalu kami… Hush! Ngawur ah!
“Ooh…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Dewi berhenti baca.
“Dek, punya kartu aggota enggak?” tanya mbak-mbak itu.
“Eumh, enggak.” jawabku.
“Kalo gitu adek enggak boleh ngebaca di sini.” Kata mbak itu dengan suara yang enggak tinggi seperti orang kalo marah. Tapi dalam nada bicara mbak-mbak itu aku ngerasain aku mbak-mbak itu pengen banget nyekek diriku dan Dewi kemudian memanggang kami lalu dimakan pake kecap Bango.
“Em, cara jadi anggotanya gimana, mbak?” tanyaku. Padahal jelas aku sudah tahu caranya soalnya aku pernah ke sini sebelumnya dan enggak niat jadi anggota. Soalnya kalo aku mau jadi anggota, harus ngeluarin duit delapan puluh ribu lebih. Mahal banget!
“Itu, baca aja di depan pintu keterangannya.”
Aku lalu membisikkan sebuah rencana penyelamatan ke telinga Dewi,
“Wi, kita pura-pura ngebaca keterangan itu di pintu keluar, trus kalo mbak-mbaknya uda enggak merhatiin kita lagi kita buru-buru ngabur trus nyusul Mira dan yang lain.”
Aku dan Dewi ngejalanin rencana itu dan…
Yeah! Merdeka! Akhirnya kami bisa ngabur juga dan ninggalin mbak-mbak penjaga tadi yang aku yakin, sedang mengumpat-umpatku dan Dewi yang kabur enggak bilang-bilang (Ya iyalah, masa kabur bilang-bilang?).

Tidak ada komentar: