-Arti Hidup-
Kemarin aku mendapat sebuah paket dari redaksi majalah KaWanku karena aku telah menjadi peserta Coaching Cerpen KaWanku. Itu lho… sebuah pelatihan menulis cerpen dan novel yang diadakan majalah KaWanku. Isinya, waw… satu karton buku-buku dan tiga buah goodie bag, lalu ada pin, de es be.
Melihat novel-novel dan komik-komik yang bertumpuk merupakaan godaan berat banget buatku. Aku nekat menunda menyelesaikan naskah buat ikutan lomba cerpen tingkat nasional, naskah artikel tentang lingkungan hidup, naskah novelku, dan banyak lagi pekerjaanku yang aku tunda untuk membaca novel dan komik-komik tersebut.
Sampai saat ini, aku baru selesai membaca sebuah komik dan dua buah novel. Dan isinya bagus-bagus semua. Satu lagi. Rata-rata isinya tentang arti kehidupan.
Komik yang aku baca, judulnya Sunset on Third Street, ceritanya tentang sebuah keluarga yang hidupnya sederhana… banget. Mereka membuka sebuah bengkel yang namanya Suzuki Auto. Satu yang bikin novel ini istimewa buatku. Novel ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang dengan warna yang sama; Awalnya kehidupan mereka baik-baik saja, tiba-tiba karena satu dan lain hal mereka harus ‘jatuh’, tapi mereka berusaha untuk bangkit kembali. Dari komik ini aku belajar; Hidup itu enggak ada yang mulus. Seperti roda, hidup itu berputar. Terkadang kita berada di puncak, namun ada kalanya kita berada di dasar. Tergantung kita, kalo kita punya tekad buat berdiri kembali, maka keadaan akan menjadi lebih baik.
Lalu novel yang judulnya Betelgeuse, novel ini bercerita tentang seorang cewek yang namanya Lynn, yang ditinggal oleh kakak kesayangannya, Erik. Selain itu, papa Lynn juga seorang dictator yang menyebabkan Erik meninggal. Di saat Lynn merasa hidupnya benar-benar hancur, muncul tiga orang cowok dengan karakter yang berbeda-beda, yang membauat kehidupan Lynn serasa lebih berwarna. Ada Zio, cowok perfect yang menjadi idola cewek-cewek satu sekolah. Lalu Orion yang dicap sebagai ‘the bad boy’, cowok yang paling cuek dengan makhluk yang namanya cewek, tapi bisa baik banget dan menjadi tempat curhat saat Lynn sedang jatuh. Dan terakhir Alan, cowok yang mengingatkan Lynn pada mas Erik. Wajah Alan, makanan kesukaan, dan hobi Alan, sama persis dengan kepribadian Erik. OK, aku enggak mau cerita jauh-jauh soal ini novel. Ntar aku dituntuk sama penulisnya. Tapi dari novel ini aku belajar satu hal; Kehidupan itu penuh dengan kesulitan. Tergantung kita yang menjalaninya. Apa kita bisa menanggapi kesulitan itu dengan baik? Jika ya, kesulitan itu akan menjadi pelajaran yang baik banget buat kita. Sedangkan jika tidak, maka kesulitan itu akan menjadi pisau buat kita.
Terakhir, novel Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan. Gila! Ini novel keren banget. Ceritanya tentang seorang editor di sebuah penerbitan yang nama belakangnya mirip nama depanku, Damai Priscillia, sedangkan nama depanku ntu Precillia. Si Damai ini ditugaskan ke sebuah pedalaman di Timur Timor. Ia menjadi tenaga pembantu di sebuah camp pengungsian bagi anak-anak pengungsian Timor Leste. Di buku ini arti-arti kehidupannya lebih kelihatan jelas. Tapi satu filosofi yang paling aku suka, filosofi ini diucapkan sama tokoh yang namanya Dionysius Aleaxander ; Jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. Suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan atau persentuhan anatara garis jalan hidup masing-masing.
So, bagamana arti hidup menurut versimu?
Kemarin aku mendapat sebuah paket dari redaksi majalah KaWanku karena aku telah menjadi peserta Coaching Cerpen KaWanku. Itu lho… sebuah pelatihan menulis cerpen dan novel yang diadakan majalah KaWanku. Isinya, waw… satu karton buku-buku dan tiga buah goodie bag, lalu ada pin, de es be.
Melihat novel-novel dan komik-komik yang bertumpuk merupakaan godaan berat banget buatku. Aku nekat menunda menyelesaikan naskah buat ikutan lomba cerpen tingkat nasional, naskah artikel tentang lingkungan hidup, naskah novelku, dan banyak lagi pekerjaanku yang aku tunda untuk membaca novel dan komik-komik tersebut.
Sampai saat ini, aku baru selesai membaca sebuah komik dan dua buah novel. Dan isinya bagus-bagus semua. Satu lagi. Rata-rata isinya tentang arti kehidupan.
Komik yang aku baca, judulnya Sunset on Third Street, ceritanya tentang sebuah keluarga yang hidupnya sederhana… banget. Mereka membuka sebuah bengkel yang namanya Suzuki Auto. Satu yang bikin novel ini istimewa buatku. Novel ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang dengan warna yang sama; Awalnya kehidupan mereka baik-baik saja, tiba-tiba karena satu dan lain hal mereka harus ‘jatuh’, tapi mereka berusaha untuk bangkit kembali. Dari komik ini aku belajar; Hidup itu enggak ada yang mulus. Seperti roda, hidup itu berputar. Terkadang kita berada di puncak, namun ada kalanya kita berada di dasar. Tergantung kita, kalo kita punya tekad buat berdiri kembali, maka keadaan akan menjadi lebih baik.
Lalu novel yang judulnya Betelgeuse, novel ini bercerita tentang seorang cewek yang namanya Lynn, yang ditinggal oleh kakak kesayangannya, Erik. Selain itu, papa Lynn juga seorang dictator yang menyebabkan Erik meninggal. Di saat Lynn merasa hidupnya benar-benar hancur, muncul tiga orang cowok dengan karakter yang berbeda-beda, yang membauat kehidupan Lynn serasa lebih berwarna. Ada Zio, cowok perfect yang menjadi idola cewek-cewek satu sekolah. Lalu Orion yang dicap sebagai ‘the bad boy’, cowok yang paling cuek dengan makhluk yang namanya cewek, tapi bisa baik banget dan menjadi tempat curhat saat Lynn sedang jatuh. Dan terakhir Alan, cowok yang mengingatkan Lynn pada mas Erik. Wajah Alan, makanan kesukaan, dan hobi Alan, sama persis dengan kepribadian Erik. OK, aku enggak mau cerita jauh-jauh soal ini novel. Ntar aku dituntuk sama penulisnya. Tapi dari novel ini aku belajar satu hal; Kehidupan itu penuh dengan kesulitan. Tergantung kita yang menjalaninya. Apa kita bisa menanggapi kesulitan itu dengan baik? Jika ya, kesulitan itu akan menjadi pelajaran yang baik banget buat kita. Sedangkan jika tidak, maka kesulitan itu akan menjadi pisau buat kita.
Terakhir, novel Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan. Gila! Ini novel keren banget. Ceritanya tentang seorang editor di sebuah penerbitan yang nama belakangnya mirip nama depanku, Damai Priscillia, sedangkan nama depanku ntu Precillia. Si Damai ini ditugaskan ke sebuah pedalaman di Timur Timor. Ia menjadi tenaga pembantu di sebuah camp pengungsian bagi anak-anak pengungsian Timor Leste. Di buku ini arti-arti kehidupannya lebih kelihatan jelas. Tapi satu filosofi yang paling aku suka, filosofi ini diucapkan sama tokoh yang namanya Dionysius Aleaxander ; Jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. Suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan atau persentuhan anatara garis jalan hidup masing-masing.
So, bagamana arti hidup menurut versimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar