PAPA, AKU RINDU
By : Precillia Leonita
Dan, sejak saat itu aku tidak pernah melihat Papaku lagi, aku tidak pernah melihat senyumnya yang lembut, wajah kusutnya, dan sebaris kumis yang menghias di wajahnya. Aku tidak pernah mendengar lagi suaranya yang lembut, penuh canda, aku tidak pernah merasakan lagi elusannya yang lembut dan memberi sejuta ketenangan. Terakhir aku melihatnya, ketika perang hebat antara Mama dan Papa waktu itu……...
“Kau tidak bisa begini terus, aku capek Mas, aku capek, kerja banting tulang. Kedudukanku di kantor memang lumayan, tapi jangan dikira itu enak. Begitu banyak masalah yang harus aku hadapi dan aku selesaikan. Aku juga ingin seperti ibu-ibu lainnya, yang tinggal mengurusi anak dan terima bersih uang dari suami. Berapa juta, bahkan berapa puluh ribu sih yang kau berikan untukku, untuk memenuhi kebutuhan kita ini?” kata Mamaku pada waktu itu. Di rumah Mama memang boleh dibilang kepala keluarga. Mama yang mencari uang untuk kami, sebagai karyawan di sebuah bank swasta. Sedangkan Papa, dulu sempat punya usaha fotocophy cukup besar, tapi entah kenapa, usaha Papa itu tiba-tiba berhenti, mesin-mesin foto copy pun dilelang. Dan Papa tidak ada usaha apa-apa lagi, kecuali katanya, jual beli barang yang waktu dan tempatnya tidak tentu. Bahkan uangnya pun aku tidak tahu, karena yang jelas kalau ada keperluan apa-apa, bilangnya pada Mama dan Mama yang memberiku uang.
“Nar, aku tahu diri, aku juga tidak menuntut apa-apa darimu. Tapi apa salah, aku hanya bilang kalau Wulan sudah remaja, dan bagaimanapun kehadiaran seorang ibu tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Kau tidak bisa menyerahkan semua urusannya ke Mbok Ijah, atau aku, karena aku ini laki-laki dan banyak hal yang tidak aku mengerti dari remaja perempuan. Aku hanya minta, kau sedikit saja memberi perhatian pada Wulan. Hanya itu……..kenapa …………?” Papa tidak sempat melanjutkan pembicaraanya karena Mama sudah memotongnya dengan meradang.
“Hanya itu, tapi itu terlalu banyak untukku. Urusan orang saja susah, apalagi urusan anak sendiri….”
“Apa tidak salah yang kau bilang? Seharusnya anak sendiri dulu yang kau pikirkan!”
“Aku sudah muak dengan semuanya ini, aku macam janda, tak pernah diberi uang belanja, tak pernah dibelikan sepotong bajupun, apalagi mas permata dan lainnya seperti teman-temanku.”
“Nar, sebelum kita menikah kau tahu kalau aku ini bukan orang kaya, dan aku tidak pernah menjanjikan untuk memberikan kekayaan yang berlimpah padamu,” suara Papa pahit, seperti menahan luka yang begitu dalam.
“Aku tahu, tapi setelah kita punya anak aku kira kau akan berubah. Punya tanggung jawab dan punya motivasi untuk membahagiaakan anak-anak kita.”
“Apa selama ini kau kira aku laki-laki yang tidak punya tanggung jawab dan tidak punya motivasi untuk membahagiakan anak-anak?” gemetar suara Papaku itu, barangkali Papa menangis dalam hati mendengar perkataan Mama yang bagaikan bom meledak-ledak, menghancur luluhkan hati dan harga dirinya.
“Tanya dirimu sendiri, aku bosan berhadapan dengan laki-laki tak berguna macam kau……………..”
“Narla!!!” jerit Papa, “Jadi… apa yang kau inginkan sekarang, kalau kau anggap aku ini laki-laki yang tak berguna?”
“Aku ingin ceraiiiiii!!!!” teriak mama.
Dan teriakan Mamaku itu bagai petir di siang hari bolong. Tubuhku yang sedang bersedekap di balik pintu kamar Papa dan Mama gemetar mendengarnya. Air mataku langsung berhamburan. Tapi aku masih berharap bahwa kejadian ini sekedar kejadian seperti yang teman-temanku ceritakan, tentang orang tua mereka yang bertengkar dan selalu berbicara masalah perceraian, tapi tidak pernah terwujud. Aku harap seperti itu.
Tapi ternyata kenyataan berbicara lain. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat Papaku pulang. Aku tidak pernah mendengar suaranya. Aku tidak pernah merasakan pelukannya.
“Hhhh…. Pa, Papa kok tega ninggalin Sarah, Kak Wulan, dan Mama sih? Sarah rindu sama Papa…. Sarah iri sama teman-teman Sarah yang pada merayakan Hari Ayah tahun ini bersama Papa mereka masing-masing. Sedangkan Sarah?” Dan untuk yang kesejuta kalinya air mataku kembali menetes dari pelupuk mataku.
Kembali pikiranku melayang ke masa tiga tahun yang lalu. Saat itu aku masih duduk di bangkun SD kelas V dan Kak Wulan duduk di bangku SMP kelas II.
Saat itu aku ditunjuk sekolahku untuk mengikuti lomba melukis tingkat SD. Masih terlukis jelas dalam benakku, saat itu Papa datang menontonku, menunggui, dan membawaku pulang dengan motor vespa bututnya. Masih terasa hangatnya pelukan Papa diantara piala juara, walaupun hanya sebatas juara harapan II, tapi Papa begitu bangga. Dan Papa mentraktirku makan bakso.
Hatiku pedih sekali rasanya saat mengenang kejadian itu.
“Papa, Papa kenapa harus pergi? Kenapa saat itu Papa serius menggubris permintaan Mama untuk bercerai? Papa, sekarang Papa ada dimana?” Kudekap foto Papa yang sudah lusuh.
“Sarah! Ada telphon dari teman kamu, ‘tuh!” Teriakan Kak Wulan membuyarkan lamunanku.
Segera aku berlari ke ruang tengah.
“Halo?” Buru-buru aku menjawab telphon untukku itu.
“Halo, Sar? Ini aku, Dewi. Aku cuma mau ngasih tahu kamu tentang hasil rapat OSIS tadi siang sepulang sekolah. Kamu tadi nggak ikut rapat, kan? Begini, tadi dalam rapat sudah diputusin siapa-siapa saja yang jadi panitia dalam perayaan Hari Ayah minggu depan.”
“Oh. Terus, aku kebagian tugas apa?”
“Kamu sama aku kebagian tugas sebagai seksi publikasi. Besok kita pergi bareng-bareng ke ITC buat ngebagiin selebaran, yah! Wah, acaranya pasti seru banget, deh!” Suara Dewi terdengar sangat menggebu-gebu.
“Boleh, deh.”
***
Sekarang, aku dan Dewi sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan terlengkap yang berada di kotaku.
“Mbak, datang yah ke acara perayaan Hari Ayah yang diadain SMP Suka Hati lusa yah, Mbak.” Kata Dewi kepada seorang pengunjung, sambil memberikan selembar selebaran kepada pengunjung tersebut.
“Selebarannya sudah habis dibagikan, Wi. Cepet juga, yah?” Kataku pada Dewi.
“Iya. Eh, aku pulang duluan, yah. Aku lagi ditunggu Mama aku buat menamaninya ke rumah teman lama Mama.”
“Ya sudah, aku juga mau pulang, kok. Bye!”
“Bye!” Dewi melambaikan tangan padaku, sebelum akhirnya ia menghilang diantara kerumunan para pengunjung ITC.
Setelah bayangan Dewi benar-benar hilang dari pandanganku, aku segera berjalan menuju pintu keluar.
Saat melewati sebuah toko musik, secara tidak sengaja aku melihat sosok yang sangat aku kenal, Papa!
“Pa!” Seruku memanggil Papa.
“Sarah?” Tampak Papa menoleh kearahku.
Segera aku berlari menghampiri Papa.
“Pa? Papa selama ini kemana aja, sih? Sarah rindu banget sama Papa!”
“Papa juga.” Kata Papa lembut. “Maaf yah, selama ini Papa tidak pernah menemui kamu dan Wulan.”
“Memangnya selama ini Papa kemana sih? Papa lupa sama Sarah dan kak Wulan, Papa lupa sama anak-anak Papa sendiri!”
Mendadak raut wajah Papa berubah.
“Kenapa, Pa? Sarah salah ngomong?” tanyaku sambil menatap wajah Papa, yang kelihatan jauh lebih tua dari ketika kami masih sama-sama.
“Mana mungkin Papa bisa lupa, Nak. Tapi……………panjang ceritanya,” Papa tampak sperti menerawang jauh kesana.
“Ya, singkatnya, waktu itu Papa ikut teman merantau ke Papua. Usaha disana cukup berhasil, dan baru-baru ini teman Papa yang juga dia punya usaha di Jakarta ini menjual tokonya ke Papa. Papa baru meniti jalan disini, Nak. Papa juga ingin segera ketemu kalian, tapi……………..” Papa membelai kepalaku lembut.
“Papa takut sama Mama, ya,” tebakku, dan Papa cuma tersenyum.
“Pa, Mama pasti sudah tidak marah lagi. Papa kan sekarang sudah punya toko, Papa sudah punya uang, Papa sudah bekerja………………”
“Sarah, Kau masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa,” Papa memotong ramalan-ramalanku.
“Emmm……...sudahlah, pokoknya Papa akan coba pulang, Papa akan coba ketemu Mama dan Kak Wulan, ya, tapi nanti lihat waktunya,” kata Papa
***
“Pergi kau, Wan! Kau sudah menghancurkan hidupku! Selama bertahun-tahun aku menjadi istrimu, dan selama itu juga aku hidup menderita karenamu! Pergi dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupanku dan kehidupan anak-anakku!” Aku benar-benar tidak menduga bahwa Mama masih sangat benci pada Papa.
“Nar, memangnya apa salahku?” tanya Papa putus asa.
“Kau tidak tahu salahmu?! Selama bertahun-tahun kau membuatku harus membanting tulang demi menghidupi keluarga ini! Asal kau tahu, Wan, aku menderita!”
Aku kaget mendengar ucapan Mamaku itu. Aku kira pohon kebenciandi hati Mama itu sudah tumbang, tapi nyatanya belum. Entah keberanian dari mana, aku keluar dari persembunyianku dan berusaha melerai pertengkaran kedua orangtuaku.
“Tapi Ma, sekarang Papa udah sukses. Mama tahu toko musik terkenal di ITC yang tempo hari aku dan Kak Wulan datangi? Toko itu adalah milik Papa sekarang. Kalau yang menjadi masalah adalah soal harta, sekarang papa sudah kaya, Ma. Jadi kenapa sekarang Mama masih juga belum memaafkan Papa?” tanyaku pada Mama, sambil menangis.
“Kamu tidak mengerti, Sar! Kamu masih terlalu muda untuk mengerti persoalan ini!” Mama membentakku.
“Sudah, tidak perlu melibatkan anak-anak dalam persoalan kita. Kalau aku masih tetap laki-laki tak berguna di di matamu, aku mengerti, dan aku akan coba melupakan semuanya ini,” kata Papa, lantas berjalan gontai kearah pintu rumah kami yang sudah mulai rapuh karena digerogoti rayap.
“Pa!” Aku mengejar Papa.
“Pa, kalo Papa tetap nggak bisa damai sama Mama, Papa tetap bisa jadi Papa Sarah, kan?” Tanyaku dengan nada getir.
“Ya jelas, Sarah.”
“Lusa, Papa datang ke acara sekolah Sarah ya, Pa. Udah tiga tahun Sarah nggak bisa ngerayain Hari Ayah sama-sama Papa. Karena itu Pa, Hari Ayah tahun ini pengen Sarah rayakan sama Papa. Papa datang yah ke acara perayaan Hari Ayah di sekolah Sarah, Pa.”
“Papa akan usahakan yah, Sar.” Kata Papa sambil mengelus rambutku.
***
Akhirnya, hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Hari Ayah! Tadi malam aku hamper menginap di sekolah karena membantu teman-temanku yang mendapat tugas sebagai seksi dekorasi mendekorasi ruang aula untuk acara perayaan Hari Ayah tahun ini.
“Katanya Papa kamu bakalan datang, Sar? Mana?” Tanya Dewi yang duduk di sebelahku.
“Nggak tahu, tuh. Palingan datangnya agak telat, Wi. Soalnya sekarang Papa lagi sibuk banget sama toko musiknya yang di ITC itu, lho.” Jelasku.
“Toko musik?” Ulang Dewi heran.
“Iya. Papa aku punya toko musik di ITC. Kalo nggak salah namanya Mozart Melodies.”
“Mozart Melodies? Toko musik yang terkenal itu? Toko musik yang terkenal karena menjual berbagi biola yang berkualitas dan mahal-mahal itu, Sar? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku, sih?”
“Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu, waktu kita mbagikan selebaran di ITC tempo hari lalu itu lho, Wi.”
Hening sejenak. Kemudian Dewi menyeruput segelas jus jeruk di tangannya.
Tiba-tiba Nico sahabat baikku berlari-lari menuju kearahku.
“Sarah! Pak Yosep tadi nyuruh aku ngasih tahu kamu kalo Papa kamu sekarang lagi dirawat di rumah sakit Kasih Ibu. Katanya kecelakaan. Keadaannya parah banget, Sar!”
“Hah?! Wi, bantu aku dong Wi! Antar aku ke rumah sakit Kasih Ibu yah Wi! Kalau aku naik taksi nyampenya pasti telat banget!” Aku merengek pada Dewi.
“Iya, iya! Cepetan yuk! Mumpung supirku belum pergi.”
***
Di rumah sakit telah hadir Mama dan Kak Wulan. Di depan ruang ICU tempat Papa dirawat, tampak Mama sedang menangis meraung-raung, sedangkan Kak Wulan berusaha menenangkan Mama.
“Ma, bagaimana keadaan Papa?” Tanyaku getir.
Mama tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menggeleng lemah.
“Menurut keterangan polisi, Papa mengalami kecelakaan saat menuju ke sekolahmu untuk mengahadiri perayaan Hari Ayah di sekolahmu,” penjelasan Kak Wulan.
“Perayaan Hari Ayah di sekolahku, Kak?”
“Iya, Papa mengatakan hal itu sebelum pergi pada seorang karyawannya. Dan….” Kak Wulan tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan mengambil sebuah tempat biola dari kursi.
“Dan semula, Papa ingin memberikan biola Stadivarius yang sejak kecil kau impi-impikan ini buat kau, Sar.” Terang Kak Wulan sembari menyerahkan tempat biola yang berisi biola Stadivarius impianku tersebut padaku.
Perlahan kubuka retsleting tempat biola itu dengan tangan gemetar. Dan benar saja. Sebuah biola Stadivarius yang jumlahnya tinggal beberapa ratus buah saja di dunia ini aku temukan dalam tempat biola tersebut. Wangi kayu mahoni yang menjadi bahan pembuat biola tersebut semakin membuat perasaanku hancur. Papa….
“Ibu keluarganya Pak Hermawan?” Tanya dokter yang menangani Papa pada Mama.
“I…. iya, dok. Bagaimana keadaan suami saya?”
Dokter yang menangani Papa tersebut pun menggeleng-geleng pasrah.
“Maaf, Bu. Suami anda tidak dapat kami selamatkan….”
Seketika itu juga air mataku tumpah.
“Sabar, Sar.” Dewi berusaha menghiburku.
“Tuhan, mengapa Kau tak adil padaku? Baru sehari aku bertemu Papa, dan sekarang sudah Kau ambil Papa….” Tangisku.
“Mas, maafkan aku. Aku terlalu egois. Hanya karena harta, hingga hari kematianmu tiba hari ini aku tidak sempat mengucapkan kata maaf untukmu. Maaf….” Tangis Mama.
***
Tak terasa waktu dengan cepat berlalu. Dan hari ini tepat setahun setelah kematian Papa.
Perlahan aku memainkan sebuah lagu ciptaanku sendiri dengan biola Stadivarius pemberian Papa di samping makam Papa.
Kala mentari menyengat jiwaku
Kala rintik hujan membekukan jiwaku
Kala badai menerpa hidupku
Ayah…
Hadirmu selalu kunanti
Hadirmu selalu memberiku ketenangan
Hadirmu selalu menghangatkan jiwaku
“Sar?” Terdengar sebuah suara yang sangat kukenal dari arah belakangku.
“Dewi?”
“Kamu masih sedih dengan kepergian Papa kamu yah?”
“Iya, sih. Tapi aku sadar kok. Aku nggak boleh terus menerus larut dalam kesedihan. Papa memang udah pergi. Tapi aku masih punya Mama, Kak Wulan, dan kamu, kan? Aku harus bangun dari kesedihanku.”
“Dan maju untuk menyongsong masa depanmu.”
tamat
Sabtu, 12 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar