Hei, hei! Ini nhe cerpenku yang sudah dimuat di majalah KaWanku. Keren enggak? Hehehe...
Lecxe
By : Precillia Leonita
“Pagi Ra! Tumben datangnya pagi?” Sapa Giovani saat memasuki kelasku.
“Pagi juga.” Jawabku singkat, sedangkan mataku terus menerus menatap HP milikku, dan jari jemariku asyik menari-nari di atas tombol-tombol HP milikku tersebut.
“Kamu lagi ngapain sih Ra?” Tanya Giovani yang merasa penasaran dengan tingkahku.
“Van, kamu kenal nomor ini nggak?” Tanyaku sambil memperlihatkan sederet angka yang tertera di layar HP-ku.
“0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1....” Giovani membaca nomor tersebut sambil mengerutkan keningnya.
“Kamu kenal?” Tanyaku lagi.
“May be.” Kemudian Giovani sibuk memencet-mencet tombol di HP-nya.
“Nah, bener, kan! Itu nomor yang sejak kemarin malam ngerjain aku. Aku sendiri nggak kenal sama nomor itu.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya nggak gatal.
“Kok bisa, yah?” Gumamku pelan.
“’Kok bisa’ apanya?” Tanya Giovani.
“Semalam orang yang punya nomor ini juga SMS-SMS aku, Van. Cleo sama Ferisa, teman-teman se-gank-ku juga dapat SMS yang intinya sama kaya’ SMS yang aku terima, lho.” Ceritaku kemudian.
Kemudian kuperlihatkan sebuah SMS yang aku terima semalam.
-0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1-
Hi cantik, blh knalan g? Nama gw Lecxe
“Keterlaluan banget deh itu orang. Empat orang sekaligus dia kerjain!” Kata Giovani geram.
“Emang! Lagian namanya aneh banget! Lecxe, nama apaan ‘tuh?!” Aku ikut-ikutan ngomel.
“Hallo, Ra, Van! Pagi!” Sapa Joe sahabatku ramah.
“Oh, pagi juga.” Balas Giovani sekalian mewakili diriku.
“Eh, aku mau nanya, nih!” Kata Joe sambil mengeluarkan HP miliknya dan menunjukkan sederet nomor yang tertera di layarnya.
“Kalian kenal nomor ini?” Tanya Joe kemudian.
Aku dan Giovani berpandang-pandangan heran.
“Nomor itu....” Kata kami bersamaan.
“Nomor ini kenapa?” Tanya Joe heran sambil menatap kami berdua.
“Gini Joe. Semalam, aku dan Raya dikerjain sama pemilik nomor itu juga. Oh iya, Cleo sama Ferisa yang anak kelas XI IPS juga ikut-ikutan dikerjain lho, Joe!” Cerita Giovani semangat.
“Dan lebih anehnya lagi, pemilik nomor ini ngakunya namanya Lecxe.” Tambahku lagi.
“Masa’ sih? Padahal aku berharap kalo pemilik nomor ini adalah seorang cewek cantik. Tapi kalo ngingat kalian berdua serta Cleo dan Ferisa dikerjain juga, serta nama Lecxe yang dipakai oleh pemilik nomor itu, aku jadi patah semangat deh!”
Bukannya turut prihatin dengan kekecewaan Joe, aku dan Giovani malah menertawai cowok itu.
“Oh iya, Ra. Kemarin kamu lupa balikin penggarisku kan?” Tanya Giovani tiba-tiba.
Aku menepuk jidatku kuat-kuat, hingga rasanya aku sendiri mau pingsan karena kelakuan bodohku itu.
“Waduh, aku taruh dimana, yah?” Ucapku panik.
Kemudian aku merogoh-rogoh laci mejaku. BINGO! Untung aja penggaris Giovani masih utuh tergeletak di laci mejaku. Segera aku memberikan penggaris itu pada Giovani. Eh, tapi kok ada surat dalam laci mejaku?
“Apaan ‘tuh Ra?” Tanya Giovani penasaran begitu melihat sebuah amplop merah hati saat aku menarik tanganku keluar dari laci mejaku tersebut.
“Nggak tahu, ‘tuh.”
“Coba kamu buka deh, Ra.” Kata Joe kemudian.
Perlahan aku merobek bagian atas amplop tersebut. Di dalam amplop itu aku menemukan sebuah surat yang ditulis dengan rapih sekali di atas kertas berwarna baby blue yang dipadukan dengan warna hijau muda.
Dear Raya,
Ra, sudah lama aku mengagumimu, dan sudah lama pula aku menyukaimu. Sejak aku pertama kali menjadi murid baru di SMP Harapan Kasih ini, yang pertama kali menarik perhatianku hanya kamu, kamu, dan kamu.
Ra, mungkin kamu akan mengecap aku sebagai seorang cowok pecundang yang nggak punya keberanian walau hanya untuk menyatakan perasaanku sendiri padamu. Terserah kamu. Memang saat ini aku akui emang aku ini adalah seorang cowok pecundang.
Namun suatu saat, aku janji bakalan membuka identitasku yang sebenarnya.
LECXE
Lecxe? Lecxe? Lecxe lagi? Siapa sih Lecxe?
“Wah, si Lecxe itu gombal juga, yah! Gaya bahasa suratnya juga jelek banget. Ketahuan deh kalo ‘ni orang paling lemah di pelajaran Bahasa Indonesia!” Giovani nyerocos asal.
“Lecxe itu ternyata secret admire-nya Raya.” Joe manggut-manggut.
“Kalo gitu, ngapain dia ngirim SMS sama aku, Cleo, dan Ferisa, serta kamu juga? Masa’ dia secret admire-nya kita juga?” Giovani kembali angkat bicara.
“I don’t care. Yang penting sekarang aku punya misi yang seru. Mengungkap siapa Lecxe sebenarnya! Hohoho....” Joe kemudian tertawa seperti seorang Sinterklas.
“Nggak penting banget deh kamu, Joe! Mendingan sekarang kamu piket aja deh!” Aku ngomel.
“Males! Petugas piket yang lainnya pada belum datang. Nanti mereka keenakan dong karena nggak usah piket lagi!” Ujar Joe.
“Emang hari ini siapa aja yang piket selain kamu, Joe?” Tanya Giovani.
“Disty, Raka, sama Excel.”
“Tunggu! Jangan-jangan, Lecxe itu Excel? Coba kalo nama Excel dibalik? Jadinya kan Lecxe?” Kataku tiba-tiba.
Giovani dan Joe saling berpandangan.
***
Valentine’s Day. Inilah hari yang paling aku nanti-nantikan. Sudah sebulan lebih aku berteman dengan Lecxe, walau aku menduga bahwa Lecxe itu adalah Excel, cowok pendiam yang sekelas denganku. Tapi ternyata setelah dikenal lebih dalam, Lecxe ternyata ramah juga. Aku takut kalau aku ketahuan mengetahui identitas Lecxe yang sebenarnya, aku dan Lecxe tidak akan bisa seakrab kini lagi. Dan lagi selama sebulan ini, diam-diam aku mulai menyadari bahwa aku sebenarnya menyukai Lecxe yang setahuku sebenarnya adalah Excel.
“Ra! Raya!” Teriak Cleo memanggil diriku yang sedang berjalan menuju aula tempat acara perayaan Valentine’s Day sekolahku tahun ini akan diadakan.
“Ada apa Cle? Mana Feris? Kok tumben nggak sama-sama?” Tanyaku.
“Ah, masalah si Feris sih nggak penting. Ra, aku mau ngasih kamu berita penting, nih! Soal Lecxe yang kamu ceritain sama aku dan Feris tiga minggu lalu.” Kata Cleo dengan nafas terengah-engah karena baru habis berlari-lari mengejarku.
“Soal Lecxe?” Ulangku heran.
“Hari ini MC acaranya kan si Feris, nah, tadi pagi dia dapat kabar dari Joe kalo hari ini Lecxe bakalan ngungkap identitasnya yang sebenarnya, sekaligus....” Cleo berhenti berbicara sebentar.
“Sekaligus apa, Cle?” Tanyaku dengan hati kebat-kebit.
“Sekaligus nembak kamu, Ra! Selamat ya!” Kata Cleo dengan wajah yang berbinar-binar.
“Hah?! Serius?!”
“Duarius deh, Ra!” Kata Cleo sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Tapi si Joe dapat kabar dari siapa?” Tanyaku lagi.
“Itulah, Ra. Sewaktu dapat kabar itu, Feris langsung nanya sama Joe kali-kali aja dia tahu siapa Lecxe sebenarnya. Yah, bagaimana pun juga Lecxe kan sudah ngerjai aku, Feris sama Giovani juga, kan? Tapi Joe nggak mau ngasih tahu si Feris siapa Lecxe. Katanya, dia sudah sumpah sama Lecxe supaya nggak ngebongkar identitasnya yang sebenarnya.” Terang Cleo panjang lebar.
Aku sih manggut-manggut saja mendengar penjelasan Cleo, sedangkan hatiku sedang melompat kesana-sini. Asyik!!!! Lecxe alias Excel akhirnya akan nembak aku! Oh, akhirnya Dewi Fortuna berpihak juga pada diriku.
***
Akhirnya tiba juga saat yang aku nanti-nantikan. Akhirnya Lecxe akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya!
Ferisa sebagai MC pada acara kali ini maju ke depan panggung setelah kelas XI IPA selesai dengan pertunjukkan drama mereka.
“Teman-teman, pada kesempatan kali ini, ada seorang teman kita yang akan menyatakan perasaan cintanya pada seorang cewek yang selama ini ia sukai....” Kata Ferisa di depan panggung.
Mataku sendiri asyik jelajatan mencari sosok Excel. Eh? Lho? Excel kok masih duduk dengan tenang di deretan kursi paling belakang, sih? Kalau benar Lecxe adalah Excel yang katanya mau nembak aku saat ini, seharusnya sekarang kan Excel sudah berada di balik panggung! Lalu, siapa dong Lecxe yang sebenarnya?
“.... Teman-teman, inilah ksatria cinta kita!”
Setelah Ferisa selesai mengatakan kalimat tersebut, muncullah sosok yang sangat tidak aku duga di atas panggung. JOE???!!!!
“Joe....?” Desisku tertahan.
“Ra, Ra, lihat deh! Masa’ si Lecxe itu Joe, sih?” Tanya Cleo yang duduk di sampingku.
“Teman-teman, saat ini aku mau nyatain perasaan cintaku sama seorang cewek, yang sebenernya udah lama.... banget menempati ruang rindu dalam hatiku.” Joe mulai ngegombal.
“Huuu....” Teman-teman yang lain malah menyoraki si sableng itu.
“Raya....” Kata Joe pelan.
Cowok jangkung itu kemudian berjalan kearahku, sedangkan beratus-ratus pasang mata mengikuti gerak-gerik cowok itu.
“Aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi cewekku?” Tanya Joe kemudian.
Kemudian Ferisa ikut-ikutan turun dari panggung, lalu menyerahkan mic yang sejak daritadi ia pakai kepadaku.
“Kamu.... Lecxe?” Tanyaku pelan.
“Iya, Ra. Sori kalo selama ini aku terpaksa ngebohongin kamu sebagai Lecxe, dan ngebiarin kamu menyangka kalo Lecxe adalah Excel....” Ujar Joe pelan.
Excel yang sejak dari tadi membaca komik di tempat duduknya dan tidak tahu apa-apa itu kemudian menurunkan komiknya, lalu mulai memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi saat itu, begitu mendengar namanya disebut-sebut.
“T.... tapi.... ngapain kamu ngirim SMS sama Ferisa, Cleo, dan Giovani?” Tanyaku akhirnya.
“Jadi gini, Ra. Waktu itu aku mencari nomor HP kamu, dengan cara meminjam buku biodata milik Vivien, yang berisi biodata seluruh murid-murid kelas XI. Di situ, ada lima nomor yang nggak diketahui milik siapa. Dan aku tahu, kalo diantara lima nomor itu ada salah satu yang merupakan nomor HP kamu. Jadi aku mutusin untuk minta kenalan sama lima pemilik nomor itu.” Jelas Joe akhirnya.
“Lalu kenapa kamu memakai nama Lecxe? Aku jadi mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.” Tanyaku lagi.
“Lecxe itu hanya nama karanganku aja. Aku nggak tahu, kalo ujung-ujungnya kamu malah mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.”
Mataku menatap sosok Joe tajam-tajam. Bagaimana pun, selama ini aku suka sama Lecxe. Dan Lecxe itu adalah Joe. Walau mulanya aku mengira bahwa Lecxe itu Excel.
“Jadi? Kamu mau jadi cewekku?” Tanya Joe lagi.
Seulas senyum termanisku kuberikan pada Joe. Anggaplah, senyum itu mewakili kata “Ya”.
“Makasih ya Ra.” Kata Joe kemudian.
Baik para siswa-siswi mau pun guru-guru yang hadir di situ, semuanya menyorakiku dan Joe. Ah, Joe. Lecxe-ku....
By : Precillia Leonita
“Pagi Ra! Tumben datangnya pagi?” Sapa Giovani saat memasuki kelasku.
“Pagi juga.” Jawabku singkat, sedangkan mataku terus menerus menatap HP milikku, dan jari jemariku asyik menari-nari di atas tombol-tombol HP milikku tersebut.
“Kamu lagi ngapain sih Ra?” Tanya Giovani yang merasa penasaran dengan tingkahku.
“Van, kamu kenal nomor ini nggak?” Tanyaku sambil memperlihatkan sederet angka yang tertera di layar HP-ku.
“0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1....” Giovani membaca nomor tersebut sambil mengerutkan keningnya.
“Kamu kenal?” Tanyaku lagi.
“May be.” Kemudian Giovani sibuk memencet-mencet tombol di HP-nya.
“Nah, bener, kan! Itu nomor yang sejak kemarin malam ngerjain aku. Aku sendiri nggak kenal sama nomor itu.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya nggak gatal.
“Kok bisa, yah?” Gumamku pelan.
“’Kok bisa’ apanya?” Tanya Giovani.
“Semalam orang yang punya nomor ini juga SMS-SMS aku, Van. Cleo sama Ferisa, teman-teman se-gank-ku juga dapat SMS yang intinya sama kaya’ SMS yang aku terima, lho.” Ceritaku kemudian.
Kemudian kuperlihatkan sebuah SMS yang aku terima semalam.
-0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1-
Hi cantik, blh knalan g? Nama gw Lecxe
“Keterlaluan banget deh itu orang. Empat orang sekaligus dia kerjain!” Kata Giovani geram.
“Emang! Lagian namanya aneh banget! Lecxe, nama apaan ‘tuh?!” Aku ikut-ikutan ngomel.
“Hallo, Ra, Van! Pagi!” Sapa Joe sahabatku ramah.
“Oh, pagi juga.” Balas Giovani sekalian mewakili diriku.
“Eh, aku mau nanya, nih!” Kata Joe sambil mengeluarkan HP miliknya dan menunjukkan sederet nomor yang tertera di layarnya.
“Kalian kenal nomor ini?” Tanya Joe kemudian.
Aku dan Giovani berpandang-pandangan heran.
“Nomor itu....” Kata kami bersamaan.
“Nomor ini kenapa?” Tanya Joe heran sambil menatap kami berdua.
“Gini Joe. Semalam, aku dan Raya dikerjain sama pemilik nomor itu juga. Oh iya, Cleo sama Ferisa yang anak kelas XI IPS juga ikut-ikutan dikerjain lho, Joe!” Cerita Giovani semangat.
“Dan lebih anehnya lagi, pemilik nomor ini ngakunya namanya Lecxe.” Tambahku lagi.
“Masa’ sih? Padahal aku berharap kalo pemilik nomor ini adalah seorang cewek cantik. Tapi kalo ngingat kalian berdua serta Cleo dan Ferisa dikerjain juga, serta nama Lecxe yang dipakai oleh pemilik nomor itu, aku jadi patah semangat deh!”
Bukannya turut prihatin dengan kekecewaan Joe, aku dan Giovani malah menertawai cowok itu.
“Oh iya, Ra. Kemarin kamu lupa balikin penggarisku kan?” Tanya Giovani tiba-tiba.
Aku menepuk jidatku kuat-kuat, hingga rasanya aku sendiri mau pingsan karena kelakuan bodohku itu.
“Waduh, aku taruh dimana, yah?” Ucapku panik.
Kemudian aku merogoh-rogoh laci mejaku. BINGO! Untung aja penggaris Giovani masih utuh tergeletak di laci mejaku. Segera aku memberikan penggaris itu pada Giovani. Eh, tapi kok ada surat dalam laci mejaku?
“Apaan ‘tuh Ra?” Tanya Giovani penasaran begitu melihat sebuah amplop merah hati saat aku menarik tanganku keluar dari laci mejaku tersebut.
“Nggak tahu, ‘tuh.”
“Coba kamu buka deh, Ra.” Kata Joe kemudian.
Perlahan aku merobek bagian atas amplop tersebut. Di dalam amplop itu aku menemukan sebuah surat yang ditulis dengan rapih sekali di atas kertas berwarna baby blue yang dipadukan dengan warna hijau muda.
Dear Raya,
Ra, sudah lama aku mengagumimu, dan sudah lama pula aku menyukaimu. Sejak aku pertama kali menjadi murid baru di SMP Harapan Kasih ini, yang pertama kali menarik perhatianku hanya kamu, kamu, dan kamu.
Ra, mungkin kamu akan mengecap aku sebagai seorang cowok pecundang yang nggak punya keberanian walau hanya untuk menyatakan perasaanku sendiri padamu. Terserah kamu. Memang saat ini aku akui emang aku ini adalah seorang cowok pecundang.
Namun suatu saat, aku janji bakalan membuka identitasku yang sebenarnya.
LECXE
Lecxe? Lecxe? Lecxe lagi? Siapa sih Lecxe?
“Wah, si Lecxe itu gombal juga, yah! Gaya bahasa suratnya juga jelek banget. Ketahuan deh kalo ‘ni orang paling lemah di pelajaran Bahasa Indonesia!” Giovani nyerocos asal.
“Lecxe itu ternyata secret admire-nya Raya.” Joe manggut-manggut.
“Kalo gitu, ngapain dia ngirim SMS sama aku, Cleo, dan Ferisa, serta kamu juga? Masa’ dia secret admire-nya kita juga?” Giovani kembali angkat bicara.
“I don’t care. Yang penting sekarang aku punya misi yang seru. Mengungkap siapa Lecxe sebenarnya! Hohoho....” Joe kemudian tertawa seperti seorang Sinterklas.
“Nggak penting banget deh kamu, Joe! Mendingan sekarang kamu piket aja deh!” Aku ngomel.
“Males! Petugas piket yang lainnya pada belum datang. Nanti mereka keenakan dong karena nggak usah piket lagi!” Ujar Joe.
“Emang hari ini siapa aja yang piket selain kamu, Joe?” Tanya Giovani.
“Disty, Raka, sama Excel.”
“Tunggu! Jangan-jangan, Lecxe itu Excel? Coba kalo nama Excel dibalik? Jadinya kan Lecxe?” Kataku tiba-tiba.
Giovani dan Joe saling berpandangan.
***
Valentine’s Day. Inilah hari yang paling aku nanti-nantikan. Sudah sebulan lebih aku berteman dengan Lecxe, walau aku menduga bahwa Lecxe itu adalah Excel, cowok pendiam yang sekelas denganku. Tapi ternyata setelah dikenal lebih dalam, Lecxe ternyata ramah juga. Aku takut kalau aku ketahuan mengetahui identitas Lecxe yang sebenarnya, aku dan Lecxe tidak akan bisa seakrab kini lagi. Dan lagi selama sebulan ini, diam-diam aku mulai menyadari bahwa aku sebenarnya menyukai Lecxe yang setahuku sebenarnya adalah Excel.
“Ra! Raya!” Teriak Cleo memanggil diriku yang sedang berjalan menuju aula tempat acara perayaan Valentine’s Day sekolahku tahun ini akan diadakan.
“Ada apa Cle? Mana Feris? Kok tumben nggak sama-sama?” Tanyaku.
“Ah, masalah si Feris sih nggak penting. Ra, aku mau ngasih kamu berita penting, nih! Soal Lecxe yang kamu ceritain sama aku dan Feris tiga minggu lalu.” Kata Cleo dengan nafas terengah-engah karena baru habis berlari-lari mengejarku.
“Soal Lecxe?” Ulangku heran.
“Hari ini MC acaranya kan si Feris, nah, tadi pagi dia dapat kabar dari Joe kalo hari ini Lecxe bakalan ngungkap identitasnya yang sebenarnya, sekaligus....” Cleo berhenti berbicara sebentar.
“Sekaligus apa, Cle?” Tanyaku dengan hati kebat-kebit.
“Sekaligus nembak kamu, Ra! Selamat ya!” Kata Cleo dengan wajah yang berbinar-binar.
“Hah?! Serius?!”
“Duarius deh, Ra!” Kata Cleo sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Tapi si Joe dapat kabar dari siapa?” Tanyaku lagi.
“Itulah, Ra. Sewaktu dapat kabar itu, Feris langsung nanya sama Joe kali-kali aja dia tahu siapa Lecxe sebenarnya. Yah, bagaimana pun juga Lecxe kan sudah ngerjai aku, Feris sama Giovani juga, kan? Tapi Joe nggak mau ngasih tahu si Feris siapa Lecxe. Katanya, dia sudah sumpah sama Lecxe supaya nggak ngebongkar identitasnya yang sebenarnya.” Terang Cleo panjang lebar.
Aku sih manggut-manggut saja mendengar penjelasan Cleo, sedangkan hatiku sedang melompat kesana-sini. Asyik!!!! Lecxe alias Excel akhirnya akan nembak aku! Oh, akhirnya Dewi Fortuna berpihak juga pada diriku.
***
Akhirnya tiba juga saat yang aku nanti-nantikan. Akhirnya Lecxe akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya!
Ferisa sebagai MC pada acara kali ini maju ke depan panggung setelah kelas XI IPA selesai dengan pertunjukkan drama mereka.
“Teman-teman, pada kesempatan kali ini, ada seorang teman kita yang akan menyatakan perasaan cintanya pada seorang cewek yang selama ini ia sukai....” Kata Ferisa di depan panggung.
Mataku sendiri asyik jelajatan mencari sosok Excel. Eh? Lho? Excel kok masih duduk dengan tenang di deretan kursi paling belakang, sih? Kalau benar Lecxe adalah Excel yang katanya mau nembak aku saat ini, seharusnya sekarang kan Excel sudah berada di balik panggung! Lalu, siapa dong Lecxe yang sebenarnya?
“.... Teman-teman, inilah ksatria cinta kita!”
Setelah Ferisa selesai mengatakan kalimat tersebut, muncullah sosok yang sangat tidak aku duga di atas panggung. JOE???!!!!
“Joe....?” Desisku tertahan.
“Ra, Ra, lihat deh! Masa’ si Lecxe itu Joe, sih?” Tanya Cleo yang duduk di sampingku.
“Teman-teman, saat ini aku mau nyatain perasaan cintaku sama seorang cewek, yang sebenernya udah lama.... banget menempati ruang rindu dalam hatiku.” Joe mulai ngegombal.
“Huuu....” Teman-teman yang lain malah menyoraki si sableng itu.
“Raya....” Kata Joe pelan.
Cowok jangkung itu kemudian berjalan kearahku, sedangkan beratus-ratus pasang mata mengikuti gerak-gerik cowok itu.
“Aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi cewekku?” Tanya Joe kemudian.
Kemudian Ferisa ikut-ikutan turun dari panggung, lalu menyerahkan mic yang sejak daritadi ia pakai kepadaku.
“Kamu.... Lecxe?” Tanyaku pelan.
“Iya, Ra. Sori kalo selama ini aku terpaksa ngebohongin kamu sebagai Lecxe, dan ngebiarin kamu menyangka kalo Lecxe adalah Excel....” Ujar Joe pelan.
Excel yang sejak dari tadi membaca komik di tempat duduknya dan tidak tahu apa-apa itu kemudian menurunkan komiknya, lalu mulai memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi saat itu, begitu mendengar namanya disebut-sebut.
“T.... tapi.... ngapain kamu ngirim SMS sama Ferisa, Cleo, dan Giovani?” Tanyaku akhirnya.
“Jadi gini, Ra. Waktu itu aku mencari nomor HP kamu, dengan cara meminjam buku biodata milik Vivien, yang berisi biodata seluruh murid-murid kelas XI. Di situ, ada lima nomor yang nggak diketahui milik siapa. Dan aku tahu, kalo diantara lima nomor itu ada salah satu yang merupakan nomor HP kamu. Jadi aku mutusin untuk minta kenalan sama lima pemilik nomor itu.” Jelas Joe akhirnya.
“Lalu kenapa kamu memakai nama Lecxe? Aku jadi mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.” Tanyaku lagi.
“Lecxe itu hanya nama karanganku aja. Aku nggak tahu, kalo ujung-ujungnya kamu malah mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.”
Mataku menatap sosok Joe tajam-tajam. Bagaimana pun, selama ini aku suka sama Lecxe. Dan Lecxe itu adalah Joe. Walau mulanya aku mengira bahwa Lecxe itu Excel.
“Jadi? Kamu mau jadi cewekku?” Tanya Joe lagi.
Seulas senyum termanisku kuberikan pada Joe. Anggaplah, senyum itu mewakili kata “Ya”.
“Makasih ya Ra.” Kata Joe kemudian.
Baik para siswa-siswi mau pun guru-guru yang hadir di situ, semuanya menyorakiku dan Joe. Ah, Joe. Lecxe-ku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar