Rabu, 30 April 2008

Arti Sebuah Kehadiran

-Arti Sebuah Kehadiran-

Beberapa bulan yang lalu aku perang besar sama Michelle (teman sebangkuku). Masalah sepele sih, aku, Mariana, Belinda, dan Yohana, bercandain Michelle dan ditanggapi serius sama Michelle. Udah deh, Michelle mencak-mencak dan maki-maki aku. Aku enggak terima. Dua hari aku diemin dia, lalu saat pelajaran Sejarah dia ngirim surat buat aku yang isinya intinya ngajak baikan karena dia ngerasa kehilangan aku (aih…). Aku kaget. Sebegitu besarnyakah arti kehadiranku buat seseorang?

Kita mungkin memandang seseorang yang ‘enggak banget’ dengan tatapan enggak membutuhkan. Kita mungkin terkadang ngerasa kalo itu orang enggak ada dalam hidup kita, maka hidup kita bakal lebih baik. Padahal sebenarnya enggak, lho! Tiap orang diciptakan dengan karakter yang berbeda-beda, buat melengkapi dan memberi warna kehidupan seseorang.

Misalnya Michelle, jujur, sampai saat ini aku suka kesel sama Michelle yang kerjaannya bikin telingaku panas dengan cara ngomongin orang lain di depanku. Tapi waktu beberapa kali Michelle enggak masuk sekolah, aku ngerasa ada yang kurang. Enggak ada yang ngajak ngobrol aku waktu aku hampir mati kebosanan ngedengerin penjelasan guru-guru yang suka diulang-ulang.

Ada lagi sainganku, anggap saja namanya Z. Dia suka ngomongin aku di belakangku, tapi aku tahu apa yang dia omongin karena diam-diam tanpa sadar waktu dia lagi ngomongin aku, aku suka pura-pura baca komik di dekat dia sambil nguping. Hehehe… Aku dikatain terlalu bikin diri lha, terlalu banci tampil lha, de es be. Tapi aku ngerasain banget, tanpa kehadiran dia, hidupku enggak bakal berwarna karena aku enggak mengalami masalah yang ditimbulkan Z. Ya, hidup kita bakal terasa berwarna jika kita mengalami masalah. Karena saat itu kita akan menemukan hal yang patut kita perjuangkan.

Temen-temen cowokku yang doyan ngatain aku Monkey Four Eyes sebangsanya Irfan, Edo, Andrean, Bill, walau terkadang aku ngerasa kesal banget dengan mereka dan pengen manggang mereka hidup-hidup dan dijadiin santapannya Blacky (anjingku), tapi tanpa kehadiran mereka, mungkin aku bakal ngerasa hidupku hambar. Kalo Irfan enggak ada, mungkin kelasku bakal kehilangan seorang pengamen gadungan yang pinter banget Matematika. Kalo Edo enggak ada, aku jadi kehilangan partner buat nyontek (hehehe…). Kalo Andrean enggak ada… ya uda, Andrean ngilang aja deh! Hehehe… habis aku belom nemu alasan kenapa tu anak bisa memberi warna dalam hidupku. Eumh… dan kalo Bill enggak ada, mungkin enggak ada orang yang suka aku mintai contekan waktu ulangan Bahasa Inggris (hehehe… baru sekali doang, itu pun cuma satu kata.), enggak ada yang bisa aku mintai buat ngedandanin friendsterku, dan banyak alasan lainnya.

Lalu ada lagi Novelisa yang suka neriak-neriakin aku buat piket. Kalo enggak ada dia, mungkin aku enggak bakal suka musik pop Indonesia. Hlah? Kok aneh alasannya? Jadi gini, aku kurang suka sama lagu-lagu pop Indonesia, jujur. Tapi si Novelisa ini kan doyan nyanyi-nyanyi di kelas, dan kalo aku ngedengar suaranya, yah, walau sedikit, aku jadi suka sama lagu yang dinyanyiin dia, entah mengapa.

Trus Debora yang suka ngomel kalo aku telat pimpin ibadah. Kalo Debora enggak ada, mungkin aku bakal kehilangan orang yang bisa aku tanya-tanyain kalo ada pelajaran yang enggak aku ngerti. Enggak ada orang yang bisa aku tanya-tanyain PR, dan seribu satu alasan lainnya.

Begitulah. Terkadang kita berharap supaya seseorang menghilang dari kehidupan kita. Tapi coba kita berhenti dan merenung sejenak, lalu membayangkan. Seandainya orang itu benar-benar menghilang dari kehidupan kita, apa yang akan terjadi? Jangan cuma melihat dari sisi negatifnya saja, tapi lihat pula dari sisi positifnya.

BTW, tinggalin komentar yah…

-Akhir Zaman?-

-Akhir Zaman?-

Beberapa waktu yang lalu, kalo enggak salah hari itu hari Senin ato Rabu gitu, aku dikirimin SMS berantai dari seorang sahabatku, Lia. Sebenarnya aku sering dikirimin SMS berantai gitu yang mengandung ancaman ato kutukan-kutukan dan semacamnya. Mulai dari enggak bakal dapat pacar, kehilangan orang yang disayangi, bakal kena sial melulu, de es be. Tapi SMS berantai yang aku terima kali ini rada-rada beda. Enggak ada ancaman, isinya kurang lebih begini lho;

krtu axis dah mulai kluar.. Dah ad d counter2 hape.. dah ada yg jual..
jgn pke tuh krtu dh. Udh pd tw kn tuh krtu setan?? jd jgn coba2.. tu krtu pendukng gereja setan – “six-A”
ni ciri2nya: ada gmbr org lg loncat, smpulnya wrna putih, ad angka 60-nya, n ad griz wrna orange n ungu.
tlng sbarin sms ini k tmen2 qmu smw.. pliz bantuin aq.. coz ini dmi qta smw.. 1 mez mnylamatkan 1 jiwa.. GBU.. ingat! Jgn coba2

Aku kaget. Langsung aku forward SMS itu ke hampir semua teman-temanku yang aku tahu nomornya. SMS ini aku terima sekitar dua-tiga minggu yang lalu, waktu itu iklan kartu Axis belum keluar, jadi aku rada percaya-enggak percaya akan kebenaran SMS ini. Aku kira kartu Axis itu nama sebenarnya dari kartu XL ato apa gitu (sebenarnya adikku yang ngira sih…).

Nah, dua hari yang lalu aku ngelihat iklan kartu Axis di TV, waktu itu hari minggu, aku lagi asyik nonton Doraemon di RCTI. Ya ampun! Ciri-cirinya sama persis!

Bener apa enggaknya SMS itu aku masih belum tahu benar apa enggak. Tapi zaman antikris emang sudah dekat. Di Friendster, aku gabung sama sebuah grup Kristen yang namanya kalo enggak salah “GOD’S HAND AND FEET”. Nah, kalo lagi enggak ada kerjaan aku suka baca-baca pertanyaan diskusi, ato ngebuat posting bahan diskusi. Waktu itu aku baca sebuah bahan diskusi tentang zaman antikris gitu. Isinya kira-kira begini;

Waktu itu gue mengikuti seminar tentang akhir zaman. Trus pengkhotbahnya nyeritain tentang bukti-bukti akan akhir zaman yang tinggal sebentar lagi. Katanya, antikris baru akan dilaksanakan bila Bait Suci ke-3 uda kelar dibangun, dan sekarang Bait Suci itu sedang dalam proses pembangunan. Lokasinya masih dirahasiakan. Selain itu 3000 orang Lewi yang akan memainkan kecapi juga sudah dipersiapkan. Kemudian tahun …… (Sori, aku lupa tahun berapa.) telah lahir seekor lembu merah dari induk yang bukan lembu merah! Padahal spesies ini sudah punah lama… sekali.

Sebenarnya artikel itu masih ada lanjutannya, cuma aku rada lupa. Nah, setelah baca artikel itu, aku jadi mikir, Tuhan, sampai kapan Presy bakal terus hidup Presy enggak tahu. Presy enggak tahu apakah Presy sempat masuk SMA, apa Presy sempat kuliah, pacaran (Huehehe… bener! Aku benar-benar enggak tahu aku sempat pacaran apa enggak. Sampe sekarang aku belom pernah pacaran sih…), apa Presy sempat nikah, apa Presy sempat menerbitkan novel Presy… tapi jika saat waktu Presy untuk pulang pada-Mu tiba, sebelum itu bantulah Presy supaya hidup Presy bisa berguna bagi siapa saja…

Di akhir artikel yang aku baca di grup tersebut, si penulis bahan diskusi tersebut menyampaikan pesan pada para pembacanya, khususnya para remaja, supaya kita jangan terlena dengan dunia ini. Terlalu asyik dengan kehidupan kita sendiri dan melupakan Tuhan. Ingat, Tuhan itu datang seperti pencuri. Dan sebelum Tuhan memanggil kita, sebisa mungkin kita harus mempertanggung jawabkan hidup kita buat Tuhan…

Nah, balik lagi soal kartu perdana Axis itu, nanti iseng-iseng kalo sempat aku bakal nyari informasi tentang gereja setan lagi di Google ato di Yahoo. Soalnya si Yohana (temenku) nanya-nanyain aku soal gereja setan dan kartu Axis yang sementara ini sedang asyik dibicarakan di sekolahku. Dan baru… tadi siang, aku nerima SMS lagi dari temanku Danela soal kartu Axis ini.

Kartumar gsm AXIS ud keluar di tv.
60/sms
60/mnt
600/mms
Simbil 666=setan
SIXA=siksa
AXIS artinya AntiKris
Jgn dbeli itu kartu pendukung greja stan. Sebrkan smz ni, 1smz slamatkn 1 jiwa.
Lalu iseng-iseng aku menerjemahkan arti Axis ke dalam Bahasa Inggris lewat program HP-ku. Dan arti Axis dalam Bahasa Indonesia adalah poros, sumbu, ato sendi.

Menurut terjemahanku, setelah aku gabung-gabungin arti Axis dari kamus Bahasa Inggris dan arti Axis dari SMS yang dikirim Danela padaku, kesimpulanku begini; Axis adalah poros penderitaan/siksaan. Hehehe… tapi itu cuma terjemahan sembaranganku lho… Coba kalian balik Axis, jadinya Sixa kan? Kalo diucapkan dalam lafal Indonesia berarti Siksa.

Kalo kalian berminat mendalami kehidupan Kristen (aih…) kalian buka aja Friendsterku yang alamatnya precillia_missgreenholic@yahoo.com, trus kalian lihat grup yang aku ikuti. Kalian klik di grup “GOD’S HAND AND FEET”, trus kalian gabung di grup itu.

Kapan-kapan kunjungi Blog ini lagi yah!
BTW, tinggalin komentar dong…

Sabtu, 12 April 2008

Papa, Aku Rindu

PAPA, AKU RINDU
By : Precillia Leonita

Dan, sejak saat itu aku tidak pernah melihat Papaku lagi, aku tidak pernah melihat senyumnya yang lembut, wajah kusutnya, dan sebaris kumis yang menghias di wajahnya. Aku tidak pernah mendengar lagi suaranya yang lembut, penuh canda, aku tidak pernah merasakan lagi elusannya yang lembut dan memberi sejuta ketenangan. Terakhir aku melihatnya, ketika perang hebat antara Mama dan Papa waktu itu……...
“Kau tidak bisa begini terus, aku capek Mas, aku capek, kerja banting tulang. Kedudukanku di kantor memang lumayan, tapi jangan dikira itu enak. Begitu banyak masalah yang harus aku hadapi dan aku selesaikan. Aku juga ingin seperti ibu-ibu lainnya, yang tinggal mengurusi anak dan terima bersih uang dari suami. Berapa juta, bahkan berapa puluh ribu sih yang kau berikan untukku, untuk memenuhi kebutuhan kita ini?” kata Mamaku pada waktu itu. Di rumah Mama memang boleh dibilang kepala keluarga. Mama yang mencari uang untuk kami, sebagai karyawan di sebuah bank swasta. Sedangkan Papa, dulu sempat punya usaha fotocophy cukup besar, tapi entah kenapa, usaha Papa itu tiba-tiba berhenti, mesin-mesin foto copy pun dilelang. Dan Papa tidak ada usaha apa-apa lagi, kecuali katanya, jual beli barang yang waktu dan tempatnya tidak tentu. Bahkan uangnya pun aku tidak tahu, karena yang jelas kalau ada keperluan apa-apa, bilangnya pada Mama dan Mama yang memberiku uang.
“Nar, aku tahu diri, aku juga tidak menuntut apa-apa darimu. Tapi apa salah, aku hanya bilang kalau Wulan sudah remaja, dan bagaimanapun kehadiaran seorang ibu tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Kau tidak bisa menyerahkan semua urusannya ke Mbok Ijah, atau aku, karena aku ini laki-laki dan banyak hal yang tidak aku mengerti dari remaja perempuan. Aku hanya minta, kau sedikit saja memberi perhatian pada Wulan. Hanya itu……..kenapa …………?” Papa tidak sempat melanjutkan pembicaraanya karena Mama sudah memotongnya dengan meradang.
“Hanya itu, tapi itu terlalu banyak untukku. Urusan orang saja susah, apalagi urusan anak sendiri….”
“Apa tidak salah yang kau bilang? Seharusnya anak sendiri dulu yang kau pikirkan!”
“Aku sudah muak dengan semuanya ini, aku macam janda, tak pernah diberi uang belanja, tak pernah dibelikan sepotong bajupun, apalagi mas permata dan lainnya seperti teman-temanku.”
“Nar, sebelum kita menikah kau tahu kalau aku ini bukan orang kaya, dan aku tidak pernah menjanjikan untuk memberikan kekayaan yang berlimpah padamu,” suara Papa pahit, seperti menahan luka yang begitu dalam.
“Aku tahu, tapi setelah kita punya anak aku kira kau akan berubah. Punya tanggung jawab dan punya motivasi untuk membahagiaakan anak-anak kita.”
“Apa selama ini kau kira aku laki-laki yang tidak punya tanggung jawab dan tidak punya motivasi untuk membahagiakan anak-anak?” gemetar suara Papaku itu, barangkali Papa menangis dalam hati mendengar perkataan Mama yang bagaikan bom meledak-ledak, menghancur luluhkan hati dan harga dirinya.
“Tanya dirimu sendiri, aku bosan berhadapan dengan laki-laki tak berguna macam kau……………..”
“Narla!!!” jerit Papa, “Jadi… apa yang kau inginkan sekarang, kalau kau anggap aku ini laki-laki yang tak berguna?”
“Aku ingin ceraiiiiii!!!!” teriak mama.
Dan teriakan Mamaku itu bagai petir di siang hari bolong. Tubuhku yang sedang bersedekap di balik pintu kamar Papa dan Mama gemetar mendengarnya. Air mataku langsung berhamburan. Tapi aku masih berharap bahwa kejadian ini sekedar kejadian seperti yang teman-temanku ceritakan, tentang orang tua mereka yang bertengkar dan selalu berbicara masalah perceraian, tapi tidak pernah terwujud. Aku harap seperti itu.
Tapi ternyata kenyataan berbicara lain. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat Papaku pulang. Aku tidak pernah mendengar suaranya. Aku tidak pernah merasakan pelukannya.
“Hhhh…. Pa, Papa kok tega ninggalin Sarah, Kak Wulan, dan Mama sih? Sarah rindu sama Papa…. Sarah iri sama teman-teman Sarah yang pada merayakan Hari Ayah tahun ini bersama Papa mereka masing-masing. Sedangkan Sarah?” Dan untuk yang kesejuta kalinya air mataku kembali menetes dari pelupuk mataku.
Kembali pikiranku melayang ke masa tiga tahun yang lalu. Saat itu aku masih duduk di bangkun SD kelas V dan Kak Wulan duduk di bangku SMP kelas II.
Saat itu aku ditunjuk sekolahku untuk mengikuti lomba melukis tingkat SD. Masih terlukis jelas dalam benakku, saat itu Papa datang menontonku, menunggui, dan membawaku pulang dengan motor vespa bututnya. Masih terasa hangatnya pelukan Papa diantara piala juara, walaupun hanya sebatas juara harapan II, tapi Papa begitu bangga. Dan Papa mentraktirku makan bakso.
Hatiku pedih sekali rasanya saat mengenang kejadian itu.
“Papa, Papa kenapa harus pergi? Kenapa saat itu Papa serius menggubris permintaan Mama untuk bercerai? Papa, sekarang Papa ada dimana?” Kudekap foto Papa yang sudah lusuh.
“Sarah! Ada telphon dari teman kamu, ‘tuh!” Teriakan Kak Wulan membuyarkan lamunanku.
Segera aku berlari ke ruang tengah.
“Halo?” Buru-buru aku menjawab telphon untukku itu.
“Halo, Sar? Ini aku, Dewi. Aku cuma mau ngasih tahu kamu tentang hasil rapat OSIS tadi siang sepulang sekolah. Kamu tadi nggak ikut rapat, kan? Begini, tadi dalam rapat sudah diputusin siapa-siapa saja yang jadi panitia dalam perayaan Hari Ayah minggu depan.”
“Oh. Terus, aku kebagian tugas apa?”
“Kamu sama aku kebagian tugas sebagai seksi publikasi. Besok kita pergi bareng-bareng ke ITC buat ngebagiin selebaran, yah! Wah, acaranya pasti seru banget, deh!” Suara Dewi terdengar sangat menggebu-gebu.
“Boleh, deh.”
***
Sekarang, aku dan Dewi sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan terlengkap yang berada di kotaku.
“Mbak, datang yah ke acara perayaan Hari Ayah yang diadain SMP Suka Hati lusa yah, Mbak.” Kata Dewi kepada seorang pengunjung, sambil memberikan selembar selebaran kepada pengunjung tersebut.
“Selebarannya sudah habis dibagikan, Wi. Cepet juga, yah?” Kataku pada Dewi.
“Iya. Eh, aku pulang duluan, yah. Aku lagi ditunggu Mama aku buat menamaninya ke rumah teman lama Mama.”
“Ya sudah, aku juga mau pulang, kok. Bye!”
“Bye!” Dewi melambaikan tangan padaku, sebelum akhirnya ia menghilang diantara kerumunan para pengunjung ITC.
Setelah bayangan Dewi benar-benar hilang dari pandanganku, aku segera berjalan menuju pintu keluar.
Saat melewati sebuah toko musik, secara tidak sengaja aku melihat sosok yang sangat aku kenal, Papa!
“Pa!” Seruku memanggil Papa.
“Sarah?” Tampak Papa menoleh kearahku.
Segera aku berlari menghampiri Papa.
“Pa? Papa selama ini kemana aja, sih? Sarah rindu banget sama Papa!”
“Papa juga.” Kata Papa lembut. “Maaf yah, selama ini Papa tidak pernah menemui kamu dan Wulan.”
“Memangnya selama ini Papa kemana sih? Papa lupa sama Sarah dan kak Wulan, Papa lupa sama anak-anak Papa sendiri!”
Mendadak raut wajah Papa berubah.
“Kenapa, Pa? Sarah salah ngomong?” tanyaku sambil menatap wajah Papa, yang kelihatan jauh lebih tua dari ketika kami masih sama-sama.
“Mana mungkin Papa bisa lupa, Nak. Tapi……………panjang ceritanya,” Papa tampak sperti menerawang jauh kesana.
“Ya, singkatnya, waktu itu Papa ikut teman merantau ke Papua. Usaha disana cukup berhasil, dan baru-baru ini teman Papa yang juga dia punya usaha di Jakarta ini menjual tokonya ke Papa. Papa baru meniti jalan disini, Nak. Papa juga ingin segera ketemu kalian, tapi……………..” Papa membelai kepalaku lembut.
“Papa takut sama Mama, ya,” tebakku, dan Papa cuma tersenyum.
“Pa, Mama pasti sudah tidak marah lagi. Papa kan sekarang sudah punya toko, Papa sudah punya uang, Papa sudah bekerja………………”
“Sarah, Kau masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa,” Papa memotong ramalan-ramalanku.
“Emmm……...sudahlah, pokoknya Papa akan coba pulang, Papa akan coba ketemu Mama dan Kak Wulan, ya, tapi nanti lihat waktunya,” kata Papa
***
“Pergi kau, Wan! Kau sudah menghancurkan hidupku! Selama bertahun-tahun aku menjadi istrimu, dan selama itu juga aku hidup menderita karenamu! Pergi dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupanku dan kehidupan anak-anakku!” Aku benar-benar tidak menduga bahwa Mama masih sangat benci pada Papa.
“Nar, memangnya apa salahku?” tanya Papa putus asa.
“Kau tidak tahu salahmu?! Selama bertahun-tahun kau membuatku harus membanting tulang demi menghidupi keluarga ini! Asal kau tahu, Wan, aku menderita!”
Aku kaget mendengar ucapan Mamaku itu. Aku kira pohon kebenciandi hati Mama itu sudah tumbang, tapi nyatanya belum. Entah keberanian dari mana, aku keluar dari persembunyianku dan berusaha melerai pertengkaran kedua orangtuaku.
“Tapi Ma, sekarang Papa udah sukses. Mama tahu toko musik terkenal di ITC yang tempo hari aku dan Kak Wulan datangi? Toko itu adalah milik Papa sekarang. Kalau yang menjadi masalah adalah soal harta, sekarang papa sudah kaya, Ma. Jadi kenapa sekarang Mama masih juga belum memaafkan Papa?” tanyaku pada Mama, sambil menangis.
“Kamu tidak mengerti, Sar! Kamu masih terlalu muda untuk mengerti persoalan ini!” Mama membentakku.
“Sudah, tidak perlu melibatkan anak-anak dalam persoalan kita. Kalau aku masih tetap laki-laki tak berguna di di matamu, aku mengerti, dan aku akan coba melupakan semuanya ini,” kata Papa, lantas berjalan gontai kearah pintu rumah kami yang sudah mulai rapuh karena digerogoti rayap.
“Pa!” Aku mengejar Papa.
“Pa, kalo Papa tetap nggak bisa damai sama Mama, Papa tetap bisa jadi Papa Sarah, kan?” Tanyaku dengan nada getir.
“Ya jelas, Sarah.”
“Lusa, Papa datang ke acara sekolah Sarah ya, Pa. Udah tiga tahun Sarah nggak bisa ngerayain Hari Ayah sama-sama Papa. Karena itu Pa, Hari Ayah tahun ini pengen Sarah rayakan sama Papa. Papa datang yah ke acara perayaan Hari Ayah di sekolah Sarah, Pa.”
“Papa akan usahakan yah, Sar.” Kata Papa sambil mengelus rambutku.
***
Akhirnya, hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Hari Ayah! Tadi malam aku hamper menginap di sekolah karena membantu teman-temanku yang mendapat tugas sebagai seksi dekorasi mendekorasi ruang aula untuk acara perayaan Hari Ayah tahun ini.
“Katanya Papa kamu bakalan datang, Sar? Mana?” Tanya Dewi yang duduk di sebelahku.
“Nggak tahu, tuh. Palingan datangnya agak telat, Wi. Soalnya sekarang Papa lagi sibuk banget sama toko musiknya yang di ITC itu, lho.” Jelasku.
“Toko musik?” Ulang Dewi heran.
“Iya. Papa aku punya toko musik di ITC. Kalo nggak salah namanya Mozart Melodies.”
“Mozart Melodies? Toko musik yang terkenal itu? Toko musik yang terkenal karena menjual berbagi biola yang berkualitas dan mahal-mahal itu, Sar? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku, sih?”
“Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu, waktu kita mbagikan selebaran di ITC tempo hari lalu itu lho, Wi.”
Hening sejenak. Kemudian Dewi menyeruput segelas jus jeruk di tangannya.
Tiba-tiba Nico sahabat baikku berlari-lari menuju kearahku.
“Sarah! Pak Yosep tadi nyuruh aku ngasih tahu kamu kalo Papa kamu sekarang lagi dirawat di rumah sakit Kasih Ibu. Katanya kecelakaan. Keadaannya parah banget, Sar!”
“Hah?! Wi, bantu aku dong Wi! Antar aku ke rumah sakit Kasih Ibu yah Wi! Kalau aku naik taksi nyampenya pasti telat banget!” Aku merengek pada Dewi.
“Iya, iya! Cepetan yuk! Mumpung supirku belum pergi.”
***
Di rumah sakit telah hadir Mama dan Kak Wulan. Di depan ruang ICU tempat Papa dirawat, tampak Mama sedang menangis meraung-raung, sedangkan Kak Wulan berusaha menenangkan Mama.
“Ma, bagaimana keadaan Papa?” Tanyaku getir.
Mama tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menggeleng lemah.
“Menurut keterangan polisi, Papa mengalami kecelakaan saat menuju ke sekolahmu untuk mengahadiri perayaan Hari Ayah di sekolahmu,” penjelasan Kak Wulan.
“Perayaan Hari Ayah di sekolahku, Kak?”
“Iya, Papa mengatakan hal itu sebelum pergi pada seorang karyawannya. Dan….” Kak Wulan tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan mengambil sebuah tempat biola dari kursi.
“Dan semula, Papa ingin memberikan biola Stadivarius yang sejak kecil kau impi-impikan ini buat kau, Sar.” Terang Kak Wulan sembari menyerahkan tempat biola yang berisi biola Stadivarius impianku tersebut padaku.
Perlahan kubuka retsleting tempat biola itu dengan tangan gemetar. Dan benar saja. Sebuah biola Stadivarius yang jumlahnya tinggal beberapa ratus buah saja di dunia ini aku temukan dalam tempat biola tersebut. Wangi kayu mahoni yang menjadi bahan pembuat biola tersebut semakin membuat perasaanku hancur. Papa….
“Ibu keluarganya Pak Hermawan?” Tanya dokter yang menangani Papa pada Mama.
“I…. iya, dok. Bagaimana keadaan suami saya?”
Dokter yang menangani Papa tersebut pun menggeleng-geleng pasrah.
“Maaf, Bu. Suami anda tidak dapat kami selamatkan….”
Seketika itu juga air mataku tumpah.
“Sabar, Sar.” Dewi berusaha menghiburku.
“Tuhan, mengapa Kau tak adil padaku? Baru sehari aku bertemu Papa, dan sekarang sudah Kau ambil Papa….” Tangisku.
“Mas, maafkan aku. Aku terlalu egois. Hanya karena harta, hingga hari kematianmu tiba hari ini aku tidak sempat mengucapkan kata maaf untukmu. Maaf….” Tangis Mama.
***
Tak terasa waktu dengan cepat berlalu. Dan hari ini tepat setahun setelah kematian Papa.
Perlahan aku memainkan sebuah lagu ciptaanku sendiri dengan biola Stadivarius pemberian Papa di samping makam Papa.

Kala mentari menyengat jiwaku
Kala rintik hujan membekukan jiwaku
Kala badai menerpa hidupku

Ayah…
Hadirmu selalu kunanti
Hadirmu selalu memberiku ketenangan
Hadirmu selalu menghangatkan jiwaku

“Sar?” Terdengar sebuah suara yang sangat kukenal dari arah belakangku.
“Dewi?”
“Kamu masih sedih dengan kepergian Papa kamu yah?”
“Iya, sih. Tapi aku sadar kok. Aku nggak boleh terus menerus larut dalam kesedihan. Papa memang udah pergi. Tapi aku masih punya Mama, Kak Wulan, dan kamu, kan? Aku harus bangun dari kesedihanku.”
“Dan maju untuk menyongsong masa depanmu.”

tamat

LECXE

Hei, hei! Ini nhe cerpenku yang sudah dimuat di majalah KaWanku. Keren enggak? Hehehe...
Lecxe
By : Precillia Leonita

“Pagi Ra! Tumben datangnya pagi?” Sapa Giovani saat memasuki kelasku.
“Pagi juga.” Jawabku singkat, sedangkan mataku terus menerus menatap HP milikku, dan jari jemariku asyik menari-nari di atas tombol-tombol HP milikku tersebut.
“Kamu lagi ngapain sih Ra?” Tanya Giovani yang merasa penasaran dengan tingkahku.
“Van, kamu kenal nomor ini nggak?” Tanyaku sambil memperlihatkan sederet angka yang tertera di layar HP-ku.
“0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1....” Giovani membaca nomor tersebut sambil mengerutkan keningnya.
“Kamu kenal?” Tanyaku lagi.
“May be.” Kemudian Giovani sibuk memencet-mencet tombol di HP-nya.
“Nah, bener, kan! Itu nomor yang sejak kemarin malam ngerjain aku. Aku sendiri nggak kenal sama nomor itu.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya nggak gatal.
“Kok bisa, yah?” Gumamku pelan.
“’Kok bisa’ apanya?” Tanya Giovani.
“Semalam orang yang punya nomor ini juga SMS-SMS aku, Van. Cleo sama Ferisa, teman-teman se-gank-ku juga dapat SMS yang intinya sama kaya’ SMS yang aku terima, lho.” Ceritaku kemudian.
Kemudian kuperlihatkan sebuah SMS yang aku terima semalam.

-0-8-1-3-4-4-3-3-2-2-1-1-
Hi cantik, blh knalan g? Nama gw Lecxe

“Keterlaluan banget deh itu orang. Empat orang sekaligus dia kerjain!” Kata Giovani geram.
“Emang! Lagian namanya aneh banget! Lecxe, nama apaan ‘tuh?!” Aku ikut-ikutan ngomel.
“Hallo, Ra, Van! Pagi!” Sapa Joe sahabatku ramah.
“Oh, pagi juga.” Balas Giovani sekalian mewakili diriku.
“Eh, aku mau nanya, nih!” Kata Joe sambil mengeluarkan HP miliknya dan menunjukkan sederet nomor yang tertera di layarnya.
“Kalian kenal nomor ini?” Tanya Joe kemudian.
Aku dan Giovani berpandang-pandangan heran.
“Nomor itu....” Kata kami bersamaan.
“Nomor ini kenapa?” Tanya Joe heran sambil menatap kami berdua.
“Gini Joe. Semalam, aku dan Raya dikerjain sama pemilik nomor itu juga. Oh iya, Cleo sama Ferisa yang anak kelas XI IPS juga ikut-ikutan dikerjain lho, Joe!” Cerita Giovani semangat.
“Dan lebih anehnya lagi, pemilik nomor ini ngakunya namanya Lecxe.” Tambahku lagi.
“Masa’ sih? Padahal aku berharap kalo pemilik nomor ini adalah seorang cewek cantik. Tapi kalo ngingat kalian berdua serta Cleo dan Ferisa dikerjain juga, serta nama Lecxe yang dipakai oleh pemilik nomor itu, aku jadi patah semangat deh!”
Bukannya turut prihatin dengan kekecewaan Joe, aku dan Giovani malah menertawai cowok itu.
“Oh iya, Ra. Kemarin kamu lupa balikin penggarisku kan?” Tanya Giovani tiba-tiba.
Aku menepuk jidatku kuat-kuat, hingga rasanya aku sendiri mau pingsan karena kelakuan bodohku itu.
“Waduh, aku taruh dimana, yah?” Ucapku panik.
Kemudian aku merogoh-rogoh laci mejaku. BINGO! Untung aja penggaris Giovani masih utuh tergeletak di laci mejaku. Segera aku memberikan penggaris itu pada Giovani. Eh, tapi kok ada surat dalam laci mejaku?
“Apaan ‘tuh Ra?” Tanya Giovani penasaran begitu melihat sebuah amplop merah hati saat aku menarik tanganku keluar dari laci mejaku tersebut.
“Nggak tahu, ‘tuh.”
“Coba kamu buka deh, Ra.” Kata Joe kemudian.
Perlahan aku merobek bagian atas amplop tersebut. Di dalam amplop itu aku menemukan sebuah surat yang ditulis dengan rapih sekali di atas kertas berwarna baby blue yang dipadukan dengan warna hijau muda.

Dear Raya,
Ra, sudah lama aku mengagumimu, dan sudah lama pula aku menyukaimu. Sejak aku pertama kali menjadi murid baru di SMP Harapan Kasih ini, yang pertama kali menarik perhatianku hanya kamu, kamu, dan kamu.
Ra, mungkin kamu akan mengecap aku sebagai seorang cowok pecundang yang nggak punya keberanian walau hanya untuk menyatakan perasaanku sendiri padamu. Terserah kamu. Memang saat ini aku akui emang aku ini adalah seorang cowok pecundang.
Namun suatu saat, aku janji bakalan membuka identitasku yang sebenarnya.

LECXE
Lecxe? Lecxe? Lecxe lagi? Siapa sih Lecxe?
“Wah, si Lecxe itu gombal juga, yah! Gaya bahasa suratnya juga jelek banget. Ketahuan deh kalo ‘ni orang paling lemah di pelajaran Bahasa Indonesia!” Giovani nyerocos asal.
“Lecxe itu ternyata secret admire-nya Raya.” Joe manggut-manggut.
“Kalo gitu, ngapain dia ngirim SMS sama aku, Cleo, dan Ferisa, serta kamu juga? Masa’ dia secret admire-nya kita juga?” Giovani kembali angkat bicara.
“I don’t care. Yang penting sekarang aku punya misi yang seru. Mengungkap siapa Lecxe sebenarnya! Hohoho....” Joe kemudian tertawa seperti seorang Sinterklas.
“Nggak penting banget deh kamu, Joe! Mendingan sekarang kamu piket aja deh!” Aku ngomel.
“Males! Petugas piket yang lainnya pada belum datang. Nanti mereka keenakan dong karena nggak usah piket lagi!” Ujar Joe.
“Emang hari ini siapa aja yang piket selain kamu, Joe?” Tanya Giovani.
“Disty, Raka, sama Excel.”
“Tunggu! Jangan-jangan, Lecxe itu Excel? Coba kalo nama Excel dibalik? Jadinya kan Lecxe?” Kataku tiba-tiba.
Giovani dan Joe saling berpandangan.
***
Valentine’s Day. Inilah hari yang paling aku nanti-nantikan. Sudah sebulan lebih aku berteman dengan Lecxe, walau aku menduga bahwa Lecxe itu adalah Excel, cowok pendiam yang sekelas denganku. Tapi ternyata setelah dikenal lebih dalam, Lecxe ternyata ramah juga. Aku takut kalau aku ketahuan mengetahui identitas Lecxe yang sebenarnya, aku dan Lecxe tidak akan bisa seakrab kini lagi. Dan lagi selama sebulan ini, diam-diam aku mulai menyadari bahwa aku sebenarnya menyukai Lecxe yang setahuku sebenarnya adalah Excel.
“Ra! Raya!” Teriak Cleo memanggil diriku yang sedang berjalan menuju aula tempat acara perayaan Valentine’s Day sekolahku tahun ini akan diadakan.
“Ada apa Cle? Mana Feris? Kok tumben nggak sama-sama?” Tanyaku.
“Ah, masalah si Feris sih nggak penting. Ra, aku mau ngasih kamu berita penting, nih! Soal Lecxe yang kamu ceritain sama aku dan Feris tiga minggu lalu.” Kata Cleo dengan nafas terengah-engah karena baru habis berlari-lari mengejarku.
“Soal Lecxe?” Ulangku heran.
“Hari ini MC acaranya kan si Feris, nah, tadi pagi dia dapat kabar dari Joe kalo hari ini Lecxe bakalan ngungkap identitasnya yang sebenarnya, sekaligus....” Cleo berhenti berbicara sebentar.
“Sekaligus apa, Cle?” Tanyaku dengan hati kebat-kebit.
“Sekaligus nembak kamu, Ra! Selamat ya!” Kata Cleo dengan wajah yang berbinar-binar.
“Hah?! Serius?!”
“Duarius deh, Ra!” Kata Cleo sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Tapi si Joe dapat kabar dari siapa?” Tanyaku lagi.
“Itulah, Ra. Sewaktu dapat kabar itu, Feris langsung nanya sama Joe kali-kali aja dia tahu siapa Lecxe sebenarnya. Yah, bagaimana pun juga Lecxe kan sudah ngerjai aku, Feris sama Giovani juga, kan? Tapi Joe nggak mau ngasih tahu si Feris siapa Lecxe. Katanya, dia sudah sumpah sama Lecxe supaya nggak ngebongkar identitasnya yang sebenarnya.” Terang Cleo panjang lebar.
Aku sih manggut-manggut saja mendengar penjelasan Cleo, sedangkan hatiku sedang melompat kesana-sini. Asyik!!!! Lecxe alias Excel akhirnya akan nembak aku! Oh, akhirnya Dewi Fortuna berpihak juga pada diriku.
***
Akhirnya tiba juga saat yang aku nanti-nantikan. Akhirnya Lecxe akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya!
Ferisa sebagai MC pada acara kali ini maju ke depan panggung setelah kelas XI IPA selesai dengan pertunjukkan drama mereka.
“Teman-teman, pada kesempatan kali ini, ada seorang teman kita yang akan menyatakan perasaan cintanya pada seorang cewek yang selama ini ia sukai....” Kata Ferisa di depan panggung.
Mataku sendiri asyik jelajatan mencari sosok Excel. Eh? Lho? Excel kok masih duduk dengan tenang di deretan kursi paling belakang, sih? Kalau benar Lecxe adalah Excel yang katanya mau nembak aku saat ini, seharusnya sekarang kan Excel sudah berada di balik panggung! Lalu, siapa dong Lecxe yang sebenarnya?
“.... Teman-teman, inilah ksatria cinta kita!”
Setelah Ferisa selesai mengatakan kalimat tersebut, muncullah sosok yang sangat tidak aku duga di atas panggung. JOE???!!!!
“Joe....?” Desisku tertahan.
“Ra, Ra, lihat deh! Masa’ si Lecxe itu Joe, sih?” Tanya Cleo yang duduk di sampingku.
“Teman-teman, saat ini aku mau nyatain perasaan cintaku sama seorang cewek, yang sebenernya udah lama.... banget menempati ruang rindu dalam hatiku.” Joe mulai ngegombal.
“Huuu....” Teman-teman yang lain malah menyoraki si sableng itu.
“Raya....” Kata Joe pelan.
Cowok jangkung itu kemudian berjalan kearahku, sedangkan beratus-ratus pasang mata mengikuti gerak-gerik cowok itu.
“Aku cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi cewekku?” Tanya Joe kemudian.
Kemudian Ferisa ikut-ikutan turun dari panggung, lalu menyerahkan mic yang sejak daritadi ia pakai kepadaku.
“Kamu.... Lecxe?” Tanyaku pelan.
“Iya, Ra. Sori kalo selama ini aku terpaksa ngebohongin kamu sebagai Lecxe, dan ngebiarin kamu menyangka kalo Lecxe adalah Excel....” Ujar Joe pelan.
Excel yang sejak dari tadi membaca komik di tempat duduknya dan tidak tahu apa-apa itu kemudian menurunkan komiknya, lalu mulai memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi saat itu, begitu mendengar namanya disebut-sebut.
“T.... tapi.... ngapain kamu ngirim SMS sama Ferisa, Cleo, dan Giovani?” Tanyaku akhirnya.
“Jadi gini, Ra. Waktu itu aku mencari nomor HP kamu, dengan cara meminjam buku biodata milik Vivien, yang berisi biodata seluruh murid-murid kelas XI. Di situ, ada lima nomor yang nggak diketahui milik siapa. Dan aku tahu, kalo diantara lima nomor itu ada salah satu yang merupakan nomor HP kamu. Jadi aku mutusin untuk minta kenalan sama lima pemilik nomor itu.” Jelas Joe akhirnya.
“Lalu kenapa kamu memakai nama Lecxe? Aku jadi mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.” Tanyaku lagi.
“Lecxe itu hanya nama karanganku aja. Aku nggak tahu, kalo ujung-ujungnya kamu malah mengira kalo Lecxe itu adalah Excel.”
Mataku menatap sosok Joe tajam-tajam. Bagaimana pun, selama ini aku suka sama Lecxe. Dan Lecxe itu adalah Joe. Walau mulanya aku mengira bahwa Lecxe itu Excel.
“Jadi? Kamu mau jadi cewekku?” Tanya Joe lagi.
Seulas senyum termanisku kuberikan pada Joe. Anggaplah, senyum itu mewakili kata “Ya”.
“Makasih ya Ra.” Kata Joe kemudian.
Baik para siswa-siswi mau pun guru-guru yang hadir di situ, semuanya menyorakiku dan Joe. Ah, Joe. Lecxe-ku....

Kado Ulang Tahun Buat Dewi

Kado Ulang Tahun Buat Dewi
By : Precillia Leonita

“Wah, nggak terasa sudah tanggal 19 April yah, Ta! Kamu tahu artinya?” Dewi menatapku dengan seulas senyum di wajahnya.
“Iya, mana mungkin aku lupa! Lusa kamu ulang tahun kan?” Jawabku dengan wajah lesu.
“Hehehe… untunglah kamu ingat!” Kata Dewi seraya merangkulku.
“Mana mungkin aku lupa dengan hari ulang tahun sahabatku sendiri?” Kataku lagi. “Tapi… sori lagi Wi. Aku nggak bisa ngasih kamu…”
“Sssstt… jangan ngomongin janji itu lagi. Janji yang kamu ucapin sama aku bertahun-tahun yang lalu itu anggap saja cuma main-main. Nggak serius! Kamu jangan terbeban gitu dong buat nepatin janji kamu buat ngasih aku kado ulang tahun. Aku ngerti kok keadaan kamu! Dan lagi aku nggak butuh apa-apa kok! Keluarga aku kan keluarga berkecukupan, jadi kamu nggak usah repot-repot gitu untuk ngasih aku kado ulang tahun.” Ceramah Dewi.
Aku tersenyum miris. Ingatanku melayang pada masa lima tahun yang lalu…
***
Waktu itu aku dan Dewi masih duduk di kelas VI SD. Saat itu aku diundang Dewi ke pesta ulang tahunnya yang ke-12 di sebuah hotel berbintang.
Sebenarnya saat itu aku tidak mau datang ke pesta tersebut. Aku malu. Aku tidak memiliki baju yang bagus untuk pergi ke pesta tersebut. Dan yang lebih membuatku malu lagi, aku tidak memiliki apa pun yang bisa aku berikan pada Dewi sebagai kado ulang tahunnya. Akhirnya malam itu aku duduk meringkuk di samping jendela kamarku.
Tiba-tiba suara klakson mobil Dewi memecah keheningan malam di sekitar kompleks tempatku tinggal. Dewi menjemputku. Dewi menjemputku ke pesta ulang tahunnya yang sebenarnya sudah selesai sejak sejam yang lalu.
“Langita, kok kamu nggak datang sih ke pesta ulang tahunku? Kamu kan sahabat terbaikku!” Kata Dewi sambil mengusap air mataku saat itu.
“T… tapi Wi, aku… aku nggak punya apa pun yang bisa aku berikan sama kamu. Padahal selama ini kamu sudah banyak memberiku bermacam-macam benda, walau pun di hari yang bukan hari ulang tahunku. Sedangkan aku?” Air mataku kembali mengalir deras.
“Kado? Nggak penting tahu! Yang aku perlukan adalah kehadiran kamu. Kehadiran seorang sahabat. Dan itu sudah lebih dari cukup.”
Aku tersenyum bahagia. Dewi. Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertimu.
“Wi, aku janji. Suatu saat aku pasti akan memberimu kado di hari ulang tahunmu. Aku janji.” Kataku.
“Ya, aku tunggu janjimu yah!”
***
“Woi! Kok ngelamun sih?” Dewi membuyarkan lamunanku.
“Ah, kamu! Merusak acaraku mengenang masa lalu!” Omelku.
Kupandangi suasana jalanan di kota Jayapura ini melalui dashboard mobil Dewi.
“Ta, temenin aku sebentar ke butik tanteku, ya! Aku mau ngambil gaun buat pesta ulang tahunku lusa nanti.” Pinta Dewi.
“Oh, boleh. Terserah kamu aja.”
Dewi membelokkan mobilnya ke sebuah jalan yang belum pernah kulewati.
Lima menit kemudian kami telah tiba di RESTA BOUTIQUE, butik milik tantenya Dewi.
“Turun yuk!” Ajak Dewi sambil membuka pintu mobilnya (perlu dicatat: MOBILNYA! Bukan punyanya papa atau mama Dewi, tapi punya Dewi sendiri).
Tak lama kemudian aku dan Dewi telah berada di dalam sebuah butik yang di-design dengan gaya vintage yang klasik abis.
“Ta, lihat deh syal ini! Keren yah?” Kata Dewi sambil mengelus-elus sebuah syal biru muda yang dipajang di etalase butik tersebut.
“Iya sih, manis juga.” Kataku.
“Sebenarnya sekarang aku lagi pengen… banget punya syal. Cuma aku dilarang beli sama papa mama. Katanya nggak cocok gitu sama aku. Trus kata papa mama, kalo aku pake syal kelihatannya gimana… gitu!” Cerita Dewi sambil mengembalikan syal tersebut ke tempatnya semula.
Syal, yah? Hmm… uang tabunganku selama ini pasti cukup untuk membeli benang wol. Dan… dulu mama sempat mengajariku merajut. Ah, good idea! Aku akan memberikan Dewi sebuah syal sebagai kado ulang tahunnya. Sip!
“Dewi, sudah lama nunggu?” Tanya seorang wanita paruh baya yang tampak begitu modis dengan mengenakan sebuah shirt dress yang dipadukan dengan celana legging.
“Eh, tante. Nggak kok. Baru aja aku datang.” Kata Dewi.
“Ini gaun pesanan mama kamu. Kapan pesta ulang tahunmu dilaksanakan?” Tanya Resta, tantenya Dewi lagi.
“Em… lusa malam. Tante datang yah!”
Setelah Resta membungkus gaun pesta Dewi, aku dan Dewi segera keluar dari butik milik tantenya Dewi tersebut.
***
Malam ini tepat tanggal 21 April.
“Kak, kalo papa mama sudah pulang, tolong bilangin kalo aku pergi ke ulang tahunnya temanku yah!” Kataku pada kakakku, Kak Vivi.
“Iya, nanti Kak Vivi bilangin. Tapi kamu nggak salah tuh, mau datang ke pesta ulang tahun teman kamu dengan baju seperti itu?” Tanya Kak Vivi sambil memandangiku.
Iya. Apa tidak salah? Aku mau pesgi ke pesta ulang tahun Dewi dengan mengenakan T-shirt yang sudah kucel dan rok bekas mama?
“Ng… Mau gimana lagi Kak? Pakaianku hanya ini yang masih lumayan. Kak, aku pergi dulu yah!” Kataku sambil melambai pada Kak Vivi.
Dewi, aku datang! Aku akan menepati janjiku. Kudekap kado ulang tahun Dewi yang berupa syal yang Dewi inginkan.
***
Malam semakin dingin. Hujan rintik-rintik mulai membasahi bumi.
“Hhhh… hhh… Sedikit lagi. Tinggal lewat dua tiga gang lagi dan aku akan sampai di rumah Dewi.” Gumamku.
Aku berlari makin cepat.
CKIIITT!!!
Sebuah mobil sedan hitam bergerak dengan cepat kearahku dan segera menghempaskan tubuhku ke jalanan.
Ah, apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba tubuhku nggak bisa digerakkan sama sekali. Darah segar bercucuran dari tubuhku. Oh Tuhan… apa yang terjadi?
Tiba-tiba aku merasa diriku melayang. Dan… apa itu? Aku melihat tubuhku yang berselimutkan darah tergeletak di jalanan, dan orang-orang mulai berdatangan mengerumuni tubuhku, termasuk Dewi.
“LANGITA!!!” Jerit Dewi histeris. Tampak ia memeluk tubuhku sambil mendekap kado ulang tahunnya yang seharusnya malam ini kuantarkan langsung padanya, seandainya saja kecelakaan sialan ini tak menimpaku.
“Dewi, kok kamu nangis? Aku di sini!” Desisku.