Minggu, 09 Maret 2008

Kebersamaan

Waktu aku tanya sama seorang cyber friend-ku, katanya kebersamaan itu artinya sebuah keikutsertaan. Tapi menurutku dan teman-teman sekelasku, definisi kebersamaan adalah memberikan bantuan kepada teman-teman yang enggak mampu. Bah!
Hari itu hari Senin, hari yang paling enggak aku suka selama satu minggu. Selain karena hari Senin ada pelajaran yang paling kiamat buatku; Matematika, jam terakhir hari itu adalah jam pelajaran Kewarganegaraan. Jam pelajaran yang paling membosankan bagiku dan sebagian besar teman-temanku.
Seperti biasa, sewaktu Bu Sherly guruku asyik nerangin soal UUD 1945 dan tetek bengeknya, aku dan teman-temanku pada enggak merhatiin Bu Sherly. Aku, Devi, Rhenaldo, dan Utary asyik cerita-cerita di pojokan kelas. Michelle ngegambar-gambar di bangkunya yang enggak jauh dari jendela. Bryan ngutak-ngatik HP yang merupakan barang illegal di sekolahku dan seharusnya enggak boleh dibawa, sedangkan Edwin ketua kelasku malah ketiduran.
Sebagian besar teman-teman cowokku yang udah terkenal bengal dengan sadis teriak-teriak di kelas.
“Diam semua!” teriak Bu Sherly.
Enggak ada yang peduli. Aku sekarang asyik baca komik sendiri, soalnya udah enggak nyambung lagi ngobrol sama Devi dan Rhenaldo. Mereka ngomongin PS, aku enggak ngerti sama sekali. Mereka ngomongin sepak bola, makin enggak ngerti lagi aku. Trus Utary ngajakin aku ngobrol soal musik dan film, astaga! Aku kan paling jarang nonton TV (kalo pun nonton paling nonton film kartun! Hehehe…)! Mana nyambung kalo ngomong sama Utary?
“Diam! Kalo tidak Ibu kasih ulangan dadakan!” ancam Bu Sherly.
Semua masih enggak peduli. Aku makin serius ngebaca komik milikku yang sudah sampai bagian serunya.
TAK!!! TAK!!! TAK!!!
Dengan sadis plus wajah stress tujuh keliling Bu Sherly memukul papan dengan sapu ijuk milik kelasku. Bu Sherly kelihatan hampir mau nangis.
“Simpan buku kalian semua! Kita ulangan!”
“Yah! Bu! Masa’ gitu sih?!” protes beberapa orang temanku.
“Ibu sudah negur kalian berkali-kali tapi kalian tidak mau dengar! Sudah! Kita ulangan sekarang! Ambil selembar kertas kosong! Di atas meja kalian hanya boleh ada kertas kosong itu dan alat tulis kalian!”
“Waduh! Gimana nih? Pasti nilaiku di bawah standar!” keluhku. Dengan panik aku membuka-buku buku paket Kewarganegaraan milikku dan berusaha menghafal dua-tiga kalimat.
“Presy! Simpan buku kamu di dalam tas!” tegur Bu Sherly.
Aku makin panik.
“Aduh… Dev, Rhenaldo, Tary… aku minta contekan yah nanti… plis…” pintaku dengan tampang memelas.
“Yah Presy! Harusnya kita yang minta contekan sama kamu!” kata Utary.
Eh, tahu-tahu Devi sudah merobek-robek buku catatannya, kemudian menyelipkan selembar-dua lembar kertas catatannya ke dalam saku celananya.
“Presy!” teriak Bu Sherly lagi.
Segera aku memasukan buku paket milikku ke dalam tasku.
“Eh, kita kerja sama waktu ulangan nanti ya!” Terdengar bisik-bisik teman-temanku yang lagi ngomong dengan teman sebangkunya atau teman yang duduk di dekat habitat mereka duduk. Rata-rata sih ngomong gitu, minta contekan waktu ulangan nanti.
“Tenang saja, ada ini kok!” kata Devi sambil menunjukan beberapa lembar kertas catatan miliknya.
“Dev, nanti bantuin ya…” pintaku. Devi mengangguk.
Sementara itu Bu Sherly mulai membacakan pertanyaan demi pertanyaan yang susah… banget! Aku hampir putus asa waktu ngedenger soal-soal yang sama sekali enggak tahu harus aku jawab dengan apa.
Em, nomor satu, apa yang dimaksud dengan Pancasila sebagai ideologi negara? Ah, yang ini sih aku masih tahu jawabannya. Trus nomor dua, sebutkan dimensi-dimensi Pancasil? Ampun!!! Dimensi apaan?
“Devi, nomor dua dong…” bisikku.
Devi memulai aksinya. Ia mulai mengeluarkan kertas contekan miliknya, kemudian mulai menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Sedangkan aku tinggal ngikutin jawaban Devi.
Setelah aku dan Devi selesai menjawab, kertas ulangan kami mulai kami oper. Ke Utary, Rhenaldo, dan… temen-temen yang lain.
Seumur-umur, eh, bukan seumur-umur sih, sepanjang aku masuk SMP, baru kali ini aku nyontek. Aku tahu sih dosa, tapi aku kan enggak mau dapat nilai di bawah standar!
“Tuhan, sori yah, hari ini aku nyontek…” desisku.
“Presy, ini namanya bukan nyontek, tapi kebersamaan! Tuhan menginginkan supaya kita saling tolong-menolong kan? Tuhan pengen supaya kita hidup dalam kebersamaan kan?” khotbah Devi yang ternyata ngedengerin omonganku tadi.
Aku tersenyum. Iya juga sih, Devi ada benarnya.
Tapi guys, bagaimana pun nyontek adalah salah dan harus jadi pilihan terakhir kamu. Kalo enggak kepepet-kepepet banget, jangan nyontek yah! Nyontek hanya akan membiasakan kamu untuk tergantung sama orang lain. Sama seperti aku sekarang. Sekarang aku sudah enggak serajin dulu yang dua-tiga hari sebelum ulangan sudah mulai belajar. Kadang malah kalo ada ulangan aku enggak belajar sama sekali karena aku piker bisa dapat bala bantuan dari teman-temanku.
Em, sekarang aku sudah mulai sadar. Aku sudah mulai berusaha buat enggak nyontek lagi. Tapi kayaknya butuh waktu yang lama nih… Hehehe…

Tidak ada komentar: